Beberapa wakktu terakhir, timeline saya dipenuhi orang-orang yang mengeluhkan sikap yang diambil oleh salah satu staf pengajar di almamater saya, yang entah kenapa namanya masih terdaftar, padahal sudah tidak pernah mengajar sejak entah kapan. Sebagai anggota angkatan yang sudah tidak pernah bertemu beliau secara intens, saya sih nggak terlalu mengerti ya kenapa orang-orang bisa segitu kecewanya sama si Bapak ini. Personally, menurut saya apabila kita melihat track record si Bapak selama ini, keputusan yang dia ambil kali ini sebetulnya tidak terlalu mengherankan. Tapi mungkin beda ya, kalau kenal secara personal. It creates emotional attachment; and emotional attachment, as we all know, clouds judgement.
Tapi saya tidak akan membicarakan soal situasi politik Indonesia yang semakin memanas menjelang pemilihan presiden. Terlalu mainstream. Biarlah teman-teman lain yang lebih paham isu saja yang membicarakan soal itu. Saya ingin membicarakan soal loyalitas.
Beberapa waktu yang lalu, salah satu teman saya mendapat kesempatan kerja yang luar biasa. Kesempatan kerja ini memberikan dia kesempatan mengembangkan diri, dan sangat sesuai dengan passion-nya. Yang sedikit membingungkan adalah, di kala itu, institusi tempatnya bekerja mengatakan akan melepaskan teman saya itu, karena toh dia akan kembali lagi ke institusi mereka. Menurut saya respon ini agak aneh. Setiap orang punya hak untuk mengembangkan diri mereka dalam konteks profesional. Ketika suatu wadah tidak lagi bisa menaungi kebutuhan seseorang untuk berkembang, sudah tidak bisa menawarkan apa-apa untuk pengembangan diri, apakah seseorang harus tetap bertahan for the sake of loyalty? Terkait situasi ini, kakak saya memberikan respon yang menurut saya cukup nendang. Tetaplah loyal pada tujuan yang ingin kamu capai, bukan pada institusi.
I totally can relate with what she said, dan menurut saya hal ini bisa juga diterapkan dalam konteks yang saya sebut di awal tulisan ini. Saya sadar bahwa banyak orang menghormati Bapak-yang-mengaku-dosen itu. Penghormatan ini muncul karena at one point, Bapak ini bukan hanya seorang figur yang luar biasa, tapi juga revolusioner. Saya mengerti mengapa begitu banyak orang yang menghormati si Bapak. Orang-orang melihat betapa briliannya beliau dan bisa memahami dan menyetujui perjuangan beliau. Dan hal tersebut adalah alasan yang sangat valid untuk menghormati seseorang.
Yang jadi masalah (menurut saya), adalah masyarakat punya kecenderungan mengultuskan suatu figur: "Wah pemikiran beliau keren sekali, maka sudah pastilah beliau sepanjang hidupnya akan keren. Maka dengan demikian sebagai orang yang Indonesia yang loyal akan mengikuti beliau kemanapun beliau pergi." Naif, menurut saya. Dan agak beresiko. Menggantungkan kesetiaan pada satu figur atau institusi atau kelompok, apalagi di tingkat hard core, akan mematikan kemampuan individu untuk berpikir kritis. Jadinya yang ada ya pack mentality. Kemanapun kawanan saya pergi saya akan selalu mengikuti.
Ini yang saya lihat dilakukan oleh banyak orang di tengah-tengah situasi sosial-politik yang semakin lama semakin kacau. Orang-orang sepertinya mulai malas menentukan prinsip-prinsipnya dan membentuk pemikiran-pemikirannya sendiri. Akhirnya, mereka mengadopsi mentah-mentah secondhand thoughts dari orang lain. Bisa jadi orang tersebut adalah guru, bos, alim ulama, atau bahkan BFF; yang jelas, apapun yang dikatakan oleh figur yang tampaknya dapat dipercaya tersebut pastilah yang terbaik. Mungkin yang dirasakan orang-orang mirip seperti yang pernah dikatakan Sting ya. "If I ever lose my faith in you, there'll be nothing left for me to do." Maaf ya, Eyang Sting, I love you to the moon and back, but I would have to disagree with you on this.
I am a self-proclaimed realist, saya percaya orang akan mengambil keputusan yang memjamin keberlangsungan mereka sendiri. Terlepas dari romantisme apapun yang kita yakini, mempercayai bahwa manusia yang punya egoisme akan membuat setiap keputusan berdasarkan kepentingan kita, for as long as they shall live, adalah keyakinan yang terlampau naif.
Kembali lagi ke urusan loyalitas; buat saya loyalitas itu penting. Orang yang punya integritas harus punya loyalitas. Kalau nggak loyal, ya jadinya mencla-mencle kalau kata orang Jawa. Tapi loyalitas kepada apa? Saya pikir yang penting adalah loyalitas kepada nilai, prinsip, dan tujuan yang kita yakini. Apabila menemukan figur yang terang-terangan memperjuangkan nilai, prinsip, dan tujuan yang kita miliki; maka adalah hal yang wajar apabila kita mendukung orang tersebut, sampai tahap militan apabila diperlukan. Tapi saya pikir manusia juga harus jeli dalam melihat, apakah orang yang kita dukung masih mendukung kita? Apakah dia sendiri masih loyal dengan nilai, prinsip, dan tujuan yang membuat kita memberi dukungan kita kepadanya? Kalau tidak, yakin masih mau mendukung orang tersebut?
Saturday, May 24, 2014
Sunday, April 20, 2014
Via Dolorosa
"Apakah tuduhanmu terhadap orang ini?"
"Jikalau Ia bukan penjahat, kami tidak menyerahkannya kepadamu!"
Kata Pilatus pada mereka, "Ambillah Dia, dan hakimilah Dia menurut hukum Tauratmu!"
Kata orang-orang Yahudi itu, "Kami tidak diperbolehkan membunuh seseorang."
Beberapa hari yang lalu saya mengikuti misa Jumat Agung sebagai bagian dari rangkaian tri hari suci. Sebelum anda pergi, jangan khawatir, ini bukan tulisan agamis, pun bukan tulisan historis. Tapi untuk sedikit memberi konteks bagi anda yang tidak beragama Katolik, hari Jumat Agung adalah hari yang secara khusus digunakan untuk memperingati penderitaan dan kematian Yesus. Perjalanannya melewati Via Dolorosa, atau Jalan Penderitaan. Jadi, hari Jumat yang setiap tahun libur itu bukan Paskah ya, karena paskah itu peringatan kebangkitan Yesus, baru dirayakan di hari Minggu.
Dalam tradisi Katolik, misa Jumat Agung sedikit berbeda dari misa biasa, salah satunya karena pembacaan Injil tentang kisah sengsara Yesus dinyanyikan oleh passio. Mungkin supaya orang-orang bisa lebih menghayati kisah sengsara tersebut ya? Karena dengan dinyanyikan, suasananya jadi lebih khidmat dan sedikit mencekam. Sayangnya, keputusan konsili vatikan entah nomor berapa untuk menggunakan passio di misa Jumat Agung juga membuat peserta misa seringkali mengantuk. Kenapa? Karena bacaan Injilnya jadi lamaaaaa...
Kebencian dan Logika
Anyway, ketika mendengarkan passio kemarin, ada dua segmen menarik yang saya sadari dari kisah sengsara Yesus yang dilagukan tersebut. Yang pertama adalah di adegan ketika para umat Yahudi membawa Yesus ke hadapan Pilatus, dan terjadilah dialog yang saya tuliskan di awal tulisan ini. Penggalan dialog ini bagi saya sangat menarik karena mengonfirmasi hal yang sudah saya yakini sejak lama. Hatred clouds our judgement.
Kenapa saya bilang demikian? Umat Yahudi pada saat itu sangat membenci Yesus. Rasa benci ini begitu besar sampai-sampai mereka menginginkan kematiannya. Sesuatu yang bahkan tidak diijinkan dalam hukum Taurat. Makanya mereka membawa Yesus ke Pilatus, pejabat Romawi yang mempunyai hak menjatuhkan hukuman mati.
Saya mengerti mengapa para tokoh Yahudi pada saat itu bisa membenci Yesus. Yesus adalah figur yang revolusioner. Dan semua hal yang mengganggu status quo akan dianggap sebagai ancaman oleh orang-orang yang sudah merasa terlalu nyaman di dalamnya. Terutama ketika para tokoh ini merasakan bahwa ada kebenaran dalam kata-kata sang revolusioner. Mereka takut orang lain akan melihat kebenaran tersebut, dan meyakini bahwa mereka juga menginginkan revolusi. Dan setiap ancaman, dalam pemikiran realis, harus segera dimusnahkan.
Yang lebih menarik dalam dialog ini sebenarnya adalah pack mentality atau mentalitas kawanan yang ditunjukkan oleh orang Yahudi sisanya, yang sebenarnya tidak mendapat keuntungan apa-apa dari struktur sosial yang berlaku pada saat itu. Kalaupun mendapat keuntungan, pasti tidak sebanyak para tokoh yang saya sebutkan tadi. Tapi mereka ikut-ikutan sepenuh hati meyakini bahwa Yesus adalah ancaman yang begitu besar, sampai-sampai hukum Taurat yang mereka junjung tinggi bolehlah diabaikan demi menghapuskan ancaman ini. Kenapa saya bilang ikut-ikutan? Karena ide ini muncul dari Kayafas, seorang tokoh Yahudi yang menyatakan bahwa adalah lebih berguna jika satu orang mati demi seluruh bangsa.
Kalau saya pikir-pikir, pack mentality yang ditunjukkan orang Yahudi pada saat itu mirip ya dengan yang terjadi saat ini? Tidak hanya dalam ranah agama, tapi juga dalam ranah sosial, politik, dan lain-lain; manusia saat ini sangat mudah disetir oleh pihak lain yang mereka anggap lebih pintar, lebih bijak, dan lebih berkuasa. Makanya pada saat ini banyak sekali yang oleh salah satu teman saya disebut sebagai Klompentapir: Kelompok Pendemo Tanpa Berpikir. Seperti orang Yahudi saat itu, sebenarnya mereka sih tidak yakin masalahnya apa. Pokoknya harus dilawan. Makanya apabila kita bertanya pada mereka seperti yang dilakukan Pilatus pada orang Yahudi dalam dialog di atas, paling-paling jawaban yang para Klompentapir berikan ini sama nggantungnya degan jawaban orang-orang Yahudi di atas. Nevertheless, mereka haqul yakin kalau isu ini perlu mereka bela, kalau perlu sampai menghilangkan nyawa, entah nyawa mereka sendiri atau nyawa orang lain.
Saya tidak tahu pendapat anda, tapi menurut saya fenomena ini menyedihkan. Menyedihkan karena manusia, dengan segala kemegahannya, tidak mampu menggunakan pemikiran kritis dan logika. Saya tidak tahu apakah kecenderungan ini memang human nature atau hanya muncul ketika manusia menghadapi kehidupan yang sulit. Tapi saya menolak meyakini manusia tidak bisa memilih menggunakan logikanya. Satu hal yang pasti, sistem yang kacau memperparah kecenderungan ini. Dan ya, menurut saya sistem yang berlaku Indonesia saat ini kacau balau.
Terjebak dalam Simbolisme
Itu satu, mari kita beranjak ke hal kedua yang membuat saya tertarik; supaya tidak dituding gagal move on. Dalam bacaan Injil Jumat Agung, dikatakan bahwa umat Yahudi tidak masuk ke gedung pengadilan untuk menonton secara langsung inkuisisi Pontius Pilatus terhadap Yesus, karena pada hari itu adalah hari persiapan paska Yahudi, peringatan keluarnya umat Yahudi dari perbudakan Mesir. Masuk ke gedung pengadilan bisa menajiskan diri mereka, tapi jangan tanya saya kenapa. Saya bukan ahli Taurat.
Bagus sih, tidak mau menajiskan diri mereka sebelum perayaan hari besar. Yang membuat saya heran adalah, setelah itu mereka--dengan segala kebenciannya--ikut menyaksikan dan meramaikan kisah sengsara Yesus. Sungguh, saya gagal memahami apa yang menyebabkan mereka berpikir bahwa mereka akan menjadi najis dengan menonton orang dihakimi, tapi tidak akan menjadi najis ketika mereka beramai-ramai menghakimi dan menikmati penderitaan orang yang sama. In my own personal opinion, yang kedua sih harusnya lebih membuat najis ya.
Tapi lagi-lagi menurut saya kejadian ini relevan dengan keadaan sekarang. Saya jadi teringat beberapa saat lalu ada artikel yang membahas mengenai penelitian bertajuk "How Islamic are Islamic Countries?" yang dipublikasikan di tahun 2010. Saya sendiri belum pernah membaca hasil penelitian tersebut dan hanya mendasari pendapat saya dari artikel di atas. Intinya, negara-negara yang dianggap lebih 'Islami' dalam artian bagaimana ajaran Islam mempengaruhi kehidupan bernegara dan sosial umat Muslim justru bukan negara-negara Islam.
Saya tidak bermaksud mendiskreditkan teman-teman yang Muslim. Hanya ingim mengomentari fenomena yang saya amati saja. Saya mengamati bahwa banyak umat 'beragama', tidak hanya Islam, puas dengan menerapkan aspek-aspek simbolis dari agamanya. Asal sudah ke gereja setiap minggu dan selalu ingat Kristus itu baik, ya sudah menjadi umat Kristen yang baik. Tapi amit-amit kalau sampai pacaran, apalagi nikah sama orang yang beda agama. Yesus pasti nangis di surga sana. Kasarnya demikian.
Masalahnya, saya ini orang yang meyakini bahwa agama adalah sarana bagi kita untuk menjadi manusia yang lebih baik. Menjadi manusia yang lebih baik untuk saya erat kaitannya dengan memperlakukan manusia lain secara lebih baik pula. Hal ini yang saya pikir sering dilupakan oleh orang-orang yang merasa beragama. Seringkali ketika merasa beragama, orang punya kecenderungan menempatkan orang beragama lain sebagai second-class citizen. Mereka lupa kalau orang beragama lain itu diciptakan oleh Tuhan juga. Dalam pendapat saya sih, Tuhan yang menciptakan orang yang memeluk segala macam agama, dan bahkan orang yang tidak beragama sekalipun itu Tuhan yang sama ya. Nggak tau ya menurut anda gimana.
Kesimpulannya?
Seperti biasa, tidak ada kesimpulan! Hahaha... Tapi saya jadi berpikir, dengan segala kemajuan yang dialami oleh manusia sejak jaman Yesus disalib sampai sekarang, ternyata masih banyak hal yang tidak berubah. Sebegitu lambatkah kemajuan peradaban kita sampai-sampai kita masih melakukan kesalahan yang sudah dilakukan 2.000 tahun yang lalu? Atau kita hanya oblivious? Menolak menyadari bahwa kita melakukan kesalahan dan menolak berubah ke arah yang lebih baik?
Saya percaya bahwa manusia; sebagai makhluk Tuhan yang konon paling sempurna; dianugerahi akal, budi, dan kebebasan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. Kita diberikan kemampuan untuk melakukan analisa dan pertimbangan rasional sehingga kita mampu menimbang-nimbang hal yang mana yang baik dan buruk. Sekaran pertanyaannya, jalan mana yang mau kita ambil? Apa kita mau menjadi lebih baik? Ataukah kita mau tetap melakukan kesalahan yang sudah kita lakukan selama paling tidak 2.000 tahun? The choice is entirely up to you.
------------------------------------------------
*Gambar salah satu perhentian Via Dolorosa di Yerusalem diambil dari halaman ini.
** Gambar ssimbol-simbol religius diambil dari halaman ini.
"Jikalau Ia bukan penjahat, kami tidak menyerahkannya kepadamu!"
Kata Pilatus pada mereka, "Ambillah Dia, dan hakimilah Dia menurut hukum Tauratmu!"
Kata orang-orang Yahudi itu, "Kami tidak diperbolehkan membunuh seseorang."
Beberapa hari yang lalu saya mengikuti misa Jumat Agung sebagai bagian dari rangkaian tri hari suci. Sebelum anda pergi, jangan khawatir, ini bukan tulisan agamis, pun bukan tulisan historis. Tapi untuk sedikit memberi konteks bagi anda yang tidak beragama Katolik, hari Jumat Agung adalah hari yang secara khusus digunakan untuk memperingati penderitaan dan kematian Yesus. Perjalanannya melewati Via Dolorosa, atau Jalan Penderitaan. Jadi, hari Jumat yang setiap tahun libur itu bukan Paskah ya, karena paskah itu peringatan kebangkitan Yesus, baru dirayakan di hari Minggu.
Dalam tradisi Katolik, misa Jumat Agung sedikit berbeda dari misa biasa, salah satunya karena pembacaan Injil tentang kisah sengsara Yesus dinyanyikan oleh passio. Mungkin supaya orang-orang bisa lebih menghayati kisah sengsara tersebut ya? Karena dengan dinyanyikan, suasananya jadi lebih khidmat dan sedikit mencekam. Sayangnya, keputusan konsili vatikan entah nomor berapa untuk menggunakan passio di misa Jumat Agung juga membuat peserta misa seringkali mengantuk. Kenapa? Karena bacaan Injilnya jadi lamaaaaa...
Kebencian dan Logika
Anyway, ketika mendengarkan passio kemarin, ada dua segmen menarik yang saya sadari dari kisah sengsara Yesus yang dilagukan tersebut. Yang pertama adalah di adegan ketika para umat Yahudi membawa Yesus ke hadapan Pilatus, dan terjadilah dialog yang saya tuliskan di awal tulisan ini. Penggalan dialog ini bagi saya sangat menarik karena mengonfirmasi hal yang sudah saya yakini sejak lama. Hatred clouds our judgement.
![]() |
| Just saying, you must have hated someone so much if you want him to die an agonizing death, right?* |
Saya mengerti mengapa para tokoh Yahudi pada saat itu bisa membenci Yesus. Yesus adalah figur yang revolusioner. Dan semua hal yang mengganggu status quo akan dianggap sebagai ancaman oleh orang-orang yang sudah merasa terlalu nyaman di dalamnya. Terutama ketika para tokoh ini merasakan bahwa ada kebenaran dalam kata-kata sang revolusioner. Mereka takut orang lain akan melihat kebenaran tersebut, dan meyakini bahwa mereka juga menginginkan revolusi. Dan setiap ancaman, dalam pemikiran realis, harus segera dimusnahkan.
Yang lebih menarik dalam dialog ini sebenarnya adalah pack mentality atau mentalitas kawanan yang ditunjukkan oleh orang Yahudi sisanya, yang sebenarnya tidak mendapat keuntungan apa-apa dari struktur sosial yang berlaku pada saat itu. Kalaupun mendapat keuntungan, pasti tidak sebanyak para tokoh yang saya sebutkan tadi. Tapi mereka ikut-ikutan sepenuh hati meyakini bahwa Yesus adalah ancaman yang begitu besar, sampai-sampai hukum Taurat yang mereka junjung tinggi bolehlah diabaikan demi menghapuskan ancaman ini. Kenapa saya bilang ikut-ikutan? Karena ide ini muncul dari Kayafas, seorang tokoh Yahudi yang menyatakan bahwa adalah lebih berguna jika satu orang mati demi seluruh bangsa.
Kalau saya pikir-pikir, pack mentality yang ditunjukkan orang Yahudi pada saat itu mirip ya dengan yang terjadi saat ini? Tidak hanya dalam ranah agama, tapi juga dalam ranah sosial, politik, dan lain-lain; manusia saat ini sangat mudah disetir oleh pihak lain yang mereka anggap lebih pintar, lebih bijak, dan lebih berkuasa. Makanya pada saat ini banyak sekali yang oleh salah satu teman saya disebut sebagai Klompentapir: Kelompok Pendemo Tanpa Berpikir. Seperti orang Yahudi saat itu, sebenarnya mereka sih tidak yakin masalahnya apa. Pokoknya harus dilawan. Makanya apabila kita bertanya pada mereka seperti yang dilakukan Pilatus pada orang Yahudi dalam dialog di atas, paling-paling jawaban yang para Klompentapir berikan ini sama nggantungnya degan jawaban orang-orang Yahudi di atas. Nevertheless, mereka haqul yakin kalau isu ini perlu mereka bela, kalau perlu sampai menghilangkan nyawa, entah nyawa mereka sendiri atau nyawa orang lain.
Saya tidak tahu pendapat anda, tapi menurut saya fenomena ini menyedihkan. Menyedihkan karena manusia, dengan segala kemegahannya, tidak mampu menggunakan pemikiran kritis dan logika. Saya tidak tahu apakah kecenderungan ini memang human nature atau hanya muncul ketika manusia menghadapi kehidupan yang sulit. Tapi saya menolak meyakini manusia tidak bisa memilih menggunakan logikanya. Satu hal yang pasti, sistem yang kacau memperparah kecenderungan ini. Dan ya, menurut saya sistem yang berlaku Indonesia saat ini kacau balau.
Terjebak dalam Simbolisme
Itu satu, mari kita beranjak ke hal kedua yang membuat saya tertarik; supaya tidak dituding gagal move on. Dalam bacaan Injil Jumat Agung, dikatakan bahwa umat Yahudi tidak masuk ke gedung pengadilan untuk menonton secara langsung inkuisisi Pontius Pilatus terhadap Yesus, karena pada hari itu adalah hari persiapan paska Yahudi, peringatan keluarnya umat Yahudi dari perbudakan Mesir. Masuk ke gedung pengadilan bisa menajiskan diri mereka, tapi jangan tanya saya kenapa. Saya bukan ahli Taurat.
Bagus sih, tidak mau menajiskan diri mereka sebelum perayaan hari besar. Yang membuat saya heran adalah, setelah itu mereka--dengan segala kebenciannya--ikut menyaksikan dan meramaikan kisah sengsara Yesus. Sungguh, saya gagal memahami apa yang menyebabkan mereka berpikir bahwa mereka akan menjadi najis dengan menonton orang dihakimi, tapi tidak akan menjadi najis ketika mereka beramai-ramai menghakimi dan menikmati penderitaan orang yang sama. In my own personal opinion, yang kedua sih harusnya lebih membuat najis ya.
Tapi lagi-lagi menurut saya kejadian ini relevan dengan keadaan sekarang. Saya jadi teringat beberapa saat lalu ada artikel yang membahas mengenai penelitian bertajuk "How Islamic are Islamic Countries?" yang dipublikasikan di tahun 2010. Saya sendiri belum pernah membaca hasil penelitian tersebut dan hanya mendasari pendapat saya dari artikel di atas. Intinya, negara-negara yang dianggap lebih 'Islami' dalam artian bagaimana ajaran Islam mempengaruhi kehidupan bernegara dan sosial umat Muslim justru bukan negara-negara Islam.
Saya tidak bermaksud mendiskreditkan teman-teman yang Muslim. Hanya ingim mengomentari fenomena yang saya amati saja. Saya mengamati bahwa banyak umat 'beragama', tidak hanya Islam, puas dengan menerapkan aspek-aspek simbolis dari agamanya. Asal sudah ke gereja setiap minggu dan selalu ingat Kristus itu baik, ya sudah menjadi umat Kristen yang baik. Tapi amit-amit kalau sampai pacaran, apalagi nikah sama orang yang beda agama. Yesus pasti nangis di surga sana. Kasarnya demikian.
![]() |
| Your religion is so much more than these symbols, people! It's what you do in your day-to-day life that matters the most! ** |
Kesimpulannya?
Seperti biasa, tidak ada kesimpulan! Hahaha... Tapi saya jadi berpikir, dengan segala kemajuan yang dialami oleh manusia sejak jaman Yesus disalib sampai sekarang, ternyata masih banyak hal yang tidak berubah. Sebegitu lambatkah kemajuan peradaban kita sampai-sampai kita masih melakukan kesalahan yang sudah dilakukan 2.000 tahun yang lalu? Atau kita hanya oblivious? Menolak menyadari bahwa kita melakukan kesalahan dan menolak berubah ke arah yang lebih baik?
Saya percaya bahwa manusia; sebagai makhluk Tuhan yang konon paling sempurna; dianugerahi akal, budi, dan kebebasan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. Kita diberikan kemampuan untuk melakukan analisa dan pertimbangan rasional sehingga kita mampu menimbang-nimbang hal yang mana yang baik dan buruk. Sekaran pertanyaannya, jalan mana yang mau kita ambil? Apa kita mau menjadi lebih baik? Ataukah kita mau tetap melakukan kesalahan yang sudah kita lakukan selama paling tidak 2.000 tahun? The choice is entirely up to you.
------------------------------------------------
*Gambar salah satu perhentian Via Dolorosa di Yerusalem diambil dari halaman ini.
** Gambar ssimbol-simbol religius diambil dari halaman ini.
Thursday, March 6, 2014
Inspiring Change
Tanpa terasa satu tahun sudah (hampir) berlalu sejak tulisan terdahulu soal Hari Perempuan Internasional (International Women's Day/IWD). Dalam dua hari, dunia akan kembali memperingati hari yang didedikasikan bagi perempuan; termasuk bagi perjuangan, kepentingan, dan tantangan yang mereka miliki dan hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Tema IWD tahun 2014, Inspiring Change, menurut saya cukup menarik.
Untuk saya, perubahan adalah hal yang dapat dengan mudah dirasakan. Sayangnya tidak semua perubahan mudah dilihat. Kita bisa merasakan bagaimana cuaca berubah dingin di malam hari, kita bisa merasakan arah angin berubah, kita bisa merasakan kue berubah semakin harum ketika dipanggang. Tapi berhubung perubahan-perubahan tersebut tidak bisa dilihat, kadang kita mengabaikan perubahan tersebut begitu saja tanpa sempat mengapresiasi perubahan tersebut sebagaimana mestinya.
Perubahan Bagi Perempuan
Sebagai orang yang bekerja di bidang pembangunan sosial, saya merasakan bagaimana sulitnya menciptakan perubahan yang kita cita-citakan. Perubahan dalam konteks perbaikan keadaan perempuan apalagi. Sama sekali bukan hal yang mudah. Ada segudang faktor yang bisa memungkinkan dan menggagalkan perubahan-perubahan positif bagi perempuan. Hampir semuanya bersifat abstrak, sebagian besar ada dalam pikiran manusia. Dan pikiran manusia adalah lingkup yang sangat sulit dipengaruhi, apalagi diubah.
Mewujudkan perubahan ini butuh banyak waktu, tenaga, dan sumberdaya. Ditambah lagi reward-nya rendah. Sudah kerja jungkir balik setengah mati, tetap saja tidak ada yang berubah. Para feminis sudah berkoar-koar sejak akhir abad ke-19 untuk memperbaiki keadaan perempuan. Bahkan mungkin sejak sebelum itu. Kenyataannya, sampai saat ini opresi terhadap perempuan masih ada. Kalau dipikir dengan cara demikian, rasanya bawaannya depresi. Makanya, kita perlu ingat, perubahan ke arah yang lebih baik juga sudah banyak loh.
Banyak orang pastinya berpikir, perempuan ini maunya apa sih? Kok ya nggak bosan teriak-teriak terus? Kalau dipaksa dirangkum dalam satu kata sih, menurut saya yang diinginkan perempuan adalah respect. First and foremost, perempuan adalah manusia. Karena hal tersebut, maka perlakukanlah perempuan dengan rasa hormat yang layak didapatkan manusia. Implikasi dari pernyataan itu bisa melebar ke berbagai arah sesuai konteks, tapi saya rasa sih kata-kata tersebut cukup merangkum keinginan saya yang perempuan ini. Diperlakukan dengan rasa hormat, tidak hanya berarti diperlakukan sama loh. Kenyataannya, perempuan dan laki-laki berbeda. Masing-masing punya kekuatan dan kelemahannya masing-masing dalam berbagai aspek. Tapi perbedaan tersebut tidak bisa dijadikan basis untuk membeda-bedakan, apalagi sampai merendahkan pihak lainnya.
Inspiring Change
Kembali ke tema IWD tahun ini, Inspiring Change. Baiklah, kita ingin perubahan bagi perempuan. Tapi tentunya kita tidak ingin perubahan yang sifatnya superficial--hanya di permukaan saja. Kita menginginkan perubahan yang lestari dan berkelanjutan. Dengan demikian generasi setelah kita juga tetap bisa merasakan perubahan yang kita usahakan. Bagaimana kita bisa mencapai hal itu, anak-anaaak?? Tentunya dengan membuat orang-orang lain merasa bahwa mereka juga menginginkan perubahan itu.
Menurut interpretasi saya, tema IWD tahun ini sangat dalam. Inspiring change berarti kita tidak hanya berhenti sampai membuat perubahan, tapi kita ingin juga mempengaruhi orang lain agar terinspirasi untuk membawa perubahan dalam lingkup pengaruhnya masing-masing; entah itu mencakup dirinya sendiri, keluarganya, masyarakat, atau bahkan yang lebih luas lagi. Tapi untuk memacu orang untuk ingin berubah, kita harus terlebih dahulu meyakinkan mereka bahwa perubahan yang nantinya terjadi akan membawa keuntungan bagi mereka, dan bahwa keuntungan yang akan mereka dapatkan sebanding dengan usaha yang mereka keluarkan. Agar bisa sukses, keinginan untuk berubah ini tidak boleh hanya dimiliki oleh perempuan, tapi juga oleh anggota masyarakat lainnya.
Be The Change We Want To Be!
Berdasarkan pengalaman saya, dalam sistem yang tidak mendukung perempuan, perempuan tidak bisa mengandalkan siapapun kecuali dirinya sendiri. Setelah perempuan terinspirasi untuk berubah, kita harus memastikan mereka mempunyai cukup daya untuk mengusahakan perubahan secara terus-menerus. Mengingat bahwa mewujudkan perubahan adalah sesuatu yang melelahkan secara lahir bathin. Maka mereka harus dilengkapi dengan senjata yang bisa membantu mereka berjuang. Bukan senjata yang bisa digunakan untuk melukai secara fisik, tapi berupa kesadaran, pengetahuan, dan kemampuan untuk memperoleh rasa hormat yang layak mereka terima.
Meski demikian, musuh utama kita--para agen perubahan--bukanlah patriarki, tapi diri kita sendiri. One question remains, sebelum kita berusaha meyakinkan orang lain, apakah kita sendiri sudah yakin kita menginginkan perubahan tersebut, dengan segala konsekwensinya? Karena sebelum kita yakin, kita tidak akan mungkin bisa meyakinkan orang lain.
Untuk saya, perubahan adalah hal yang dapat dengan mudah dirasakan. Sayangnya tidak semua perubahan mudah dilihat. Kita bisa merasakan bagaimana cuaca berubah dingin di malam hari, kita bisa merasakan arah angin berubah, kita bisa merasakan kue berubah semakin harum ketika dipanggang. Tapi berhubung perubahan-perubahan tersebut tidak bisa dilihat, kadang kita mengabaikan perubahan tersebut begitu saja tanpa sempat mengapresiasi perubahan tersebut sebagaimana mestinya.
Perubahan Bagi Perempuan
Sebagai orang yang bekerja di bidang pembangunan sosial, saya merasakan bagaimana sulitnya menciptakan perubahan yang kita cita-citakan. Perubahan dalam konteks perbaikan keadaan perempuan apalagi. Sama sekali bukan hal yang mudah. Ada segudang faktor yang bisa memungkinkan dan menggagalkan perubahan-perubahan positif bagi perempuan. Hampir semuanya bersifat abstrak, sebagian besar ada dalam pikiran manusia. Dan pikiran manusia adalah lingkup yang sangat sulit dipengaruhi, apalagi diubah.
Mewujudkan perubahan ini butuh banyak waktu, tenaga, dan sumberdaya. Ditambah lagi reward-nya rendah. Sudah kerja jungkir balik setengah mati, tetap saja tidak ada yang berubah. Para feminis sudah berkoar-koar sejak akhir abad ke-19 untuk memperbaiki keadaan perempuan. Bahkan mungkin sejak sebelum itu. Kenyataannya, sampai saat ini opresi terhadap perempuan masih ada. Kalau dipikir dengan cara demikian, rasanya bawaannya depresi. Makanya, kita perlu ingat, perubahan ke arah yang lebih baik juga sudah banyak loh.
Banyak orang pastinya berpikir, perempuan ini maunya apa sih? Kok ya nggak bosan teriak-teriak terus? Kalau dipaksa dirangkum dalam satu kata sih, menurut saya yang diinginkan perempuan adalah respect. First and foremost, perempuan adalah manusia. Karena hal tersebut, maka perlakukanlah perempuan dengan rasa hormat yang layak didapatkan manusia. Implikasi dari pernyataan itu bisa melebar ke berbagai arah sesuai konteks, tapi saya rasa sih kata-kata tersebut cukup merangkum keinginan saya yang perempuan ini. Diperlakukan dengan rasa hormat, tidak hanya berarti diperlakukan sama loh. Kenyataannya, perempuan dan laki-laki berbeda. Masing-masing punya kekuatan dan kelemahannya masing-masing dalam berbagai aspek. Tapi perbedaan tersebut tidak bisa dijadikan basis untuk membeda-bedakan, apalagi sampai merendahkan pihak lainnya.
Inspiring Change
Kembali ke tema IWD tahun ini, Inspiring Change. Baiklah, kita ingin perubahan bagi perempuan. Tapi tentunya kita tidak ingin perubahan yang sifatnya superficial--hanya di permukaan saja. Kita menginginkan perubahan yang lestari dan berkelanjutan. Dengan demikian generasi setelah kita juga tetap bisa merasakan perubahan yang kita usahakan. Bagaimana kita bisa mencapai hal itu, anak-anaaak?? Tentunya dengan membuat orang-orang lain merasa bahwa mereka juga menginginkan perubahan itu.
Menurut interpretasi saya, tema IWD tahun ini sangat dalam. Inspiring change berarti kita tidak hanya berhenti sampai membuat perubahan, tapi kita ingin juga mempengaruhi orang lain agar terinspirasi untuk membawa perubahan dalam lingkup pengaruhnya masing-masing; entah itu mencakup dirinya sendiri, keluarganya, masyarakat, atau bahkan yang lebih luas lagi. Tapi untuk memacu orang untuk ingin berubah, kita harus terlebih dahulu meyakinkan mereka bahwa perubahan yang nantinya terjadi akan membawa keuntungan bagi mereka, dan bahwa keuntungan yang akan mereka dapatkan sebanding dengan usaha yang mereka keluarkan. Agar bisa sukses, keinginan untuk berubah ini tidak boleh hanya dimiliki oleh perempuan, tapi juga oleh anggota masyarakat lainnya.
Be The Change We Want To Be!
![]() |
| Women fighter! Yay!! |
Meski demikian, musuh utama kita--para agen perubahan--bukanlah patriarki, tapi diri kita sendiri. One question remains, sebelum kita berusaha meyakinkan orang lain, apakah kita sendiri sudah yakin kita menginginkan perubahan tersebut, dengan segala konsekwensinya? Karena sebelum kita yakin, kita tidak akan mungkin bisa meyakinkan orang lain.
Friday, November 1, 2013
Emo Ergo Sum
Demo buruh menuntut kenaikan upah sudah bukan hal baru lagi di Indonesia. Pro dan kontra kenaikan upah buruh di media sosial juga sudah bukan hal baru lagi. Tapi demo buruh kali ini semakin rusuh karena ada artikel-artikel yang menyoroti bagaimana para buruh berdemo sambil membawa gadget canggih dan kendaraan mentereng. Semakin seru lah pro dan kontra seputar tuntutan buruh ini.
Beberapa waktu lalu saya sempat membagi salah satu berita kontroversial tersebut di dinding facebook saya. Sederhana saja alasannya, karena saya menyadari bahwa fenomena ini (orang-orang merasa butuh gadget paling up to date dan barang-barang paling mentereng untuk tetap eksis) adalah kenyataan di negara kita, bukan hanya di kalangan buruh, tapi juga (atau mungkin malah terutama) di kalangan pekerja kantoran. As a consequence, saya terjebak daalam perdebatan soal upah buruh. Langsung dicap sebagai kelas menengah yang menolak memahami penderitaan kelas buruh. Baiklah, daripada pendapat saya disalahartikan, saya jabarkan sajalah sekalian pendapat saya soal seluruh fenomena ini.
Beberapa waktu lalu saya sempat membagi salah satu berita kontroversial tersebut di dinding facebook saya. Sederhana saja alasannya, karena saya menyadari bahwa fenomena ini (orang-orang merasa butuh gadget paling up to date dan barang-barang paling mentereng untuk tetap eksis) adalah kenyataan di negara kita, bukan hanya di kalangan buruh, tapi juga (atau mungkin malah terutama) di kalangan pekerja kantoran. As a consequence, saya terjebak daalam perdebatan soal upah buruh. Langsung dicap sebagai kelas menengah yang menolak memahami penderitaan kelas buruh. Baiklah, daripada pendapat saya disalahartikan, saya jabarkan sajalah sekalian pendapat saya soal seluruh fenomena ini.
![]() |
| We all need to practice our right to speak every once in a while.* |
Sebagai pekerja 'kantoran', saya lebih banyak melihat fenomena ini terjadi di kalangan yang oleh teman-teman yang lebih paham Marxisme dirujuk sebagai 'kelas menengah' ini. Saya menyaksikan bagaimana orang langsung memburu piranti terbaru segera setelah barang itu dirilis, melihat antrian mengular di dealer BB atau Apple Store ketika ada produk baru. Saya menyadari bahwa sebagai manusia kita punya kebutuhan upgrade dan update, saya juga merasa orang punya hak melakukan apa saja yang mereka mau dengan uang mereka. Supaya tidak dibilang munafik, saya juga beli smartphone kok, tapi saya menyadari bahwa saya melakukan iu karena saya ingin dan ketika saya membeli barang itu, ongkos nongkrong saya jadi berkurang. Itu konsekwensi yang harus saya terima. Apakah saya merasa gaji saya cukup? Tidak. Tapi saya merasa bahwa saya digaji sesuai dengan kontribusi saya pada lembaga.
Kembali ke masalah buruh. Saya bukan orang tidak berperasaan. Saya bisa membayangkan sulitnya hidup di Jakarta dengan upah 2,4 juta per bulan. Saya bukannya tidak setuju buruh menuntut perbaikan, tapi saya merasa perbaikan yang disasar salah sasaran. Kenapa? Karena setiap kali demo buruh selalu fokus pada nominal yang mereka terima. Menurut saya ini pendekatan yang sagat reaktif. Harga naik, karena itu gaji harus naik; tanpa menyadari kenaikan gaji tersebut akan berkontribusi pada naiknya harga-harga di kemudian hari. Selain itu, pendekatan ini juga simptomatik. Bagaikan kalau pusing langsung minum panadol. Gejalanya sih reda sementara, tapi kanker otaknya tetap ada.
Banyak pendapat di dunia maya menyatakan buruh harusnya lebih bersyukur. Menurut saya pendapat itu menggelikan. Buruh dirugikan, dan mereka harus bersuara. Begitu juga semua guru honorer, satpam, dan orang-orang lain yang merasa dirugikan oleh sistem. But they have to be smart. They must be able to be choose which fights are worth fighting and be strategic with those fights. Di sisi lain, ada lagi pendapat yang berkata apa salahnya buruh punya gadget terbaru atau motor keren? Nggak, nggak ada salahnya. But then again, setiap keputusan punya konsekwensi. Saya bukannya menolak buruh punya barang-barang keren, saya menolak kalau pembiayaan barang-barang keren tersebut menjadi dasar permohonan kenaikan upah mereka. Nggak ada salahnya saya punya Aston Martin, tapi bodoh kalau saya berharap bisa mencicil Aston Martin DB9 sambil mempertahankan gaya hidup saya sekarang.
![]() |
| Nothing's wrong with this baby, nothing at all.** |
Apakah kenaikan upah perlu? Mau tidak mau. Tanpa kenaikan upah, buruh tidak akan bisa bertahan. Tapi menurut saya menuntut kenaikan upah semata hanya akan melestarikan akar masalah yang menyebabkan ketimpangan sosial antara orang-orang dengan tingkat pendapatan yang berbeda-beda. Kenaikan upah bukan satu-satunya faktor yang harus diperjuangkan. Ada hal-hal yang juga esensial: Apakah mereka diijinkan berserikat dan apakah serikat tersebut berfungsi efektif untuk mendukung kepentingan para buruh? Apakah mereka diberi kesempatan mengembangkan diri dan naik ke jenjang berikutnya? Apakah keamanan kerja mereka dijamin oleh perusahaan (bukan hanya dalam hal perusahaan meminimalisir kecelakaan kerja, tapi juga menjamin buruh bukan aset yang disposable)? Apakah mereka sudah mendapat jaminan-jaminan mendasar (misalnya saja kesehatan dan pendidikan)? Itu baru pertanyaan-pertaanyaan seputar perusahaan saja. Masih banyak lagi hal-hal diluar gaji yang berujung pada memastikan kesetaraan dan perbaikan nasib buruh, tapi seringkali terabaikan. Padahal tanpa perubahan sistemik, mau berapapun gajinya, buruh akan tetap menjadi pihak yang dirugikan. Kalau mau benar-benar memperbaiki nasib buruh, secara tidak langsung subsidi untuk petani, pendidikan gratis dan berkualitas, sarana dan prasarana publik, dan seabreg isu lainnya juga harus diperbaiki.
Nah, disinilah serikat buruh dan segala CSO-CSO yang menjamur itu seharusnya berperan. Menurut saya, fungsi mereka bukan hanya untuk memobilisasi buruh untuk bergerak, tapi juga untuk mengedukasi buruh mengapa mereka perlu bergerak. Kenyataannya, kebanyakan buruh tidak mempunyai pemahaman untuk melihat contributing factors yang tidak langsung berhubungan dengan dirinya, karena itulah pihak eksternal yang punya pandangan lebih luas bisa membuat mereka menyadari hal-hal tersebut, bukannya membabi buta mendorong dan mendukung buruh untuk berkutat di masalah itu-itu saja. Toh pendekatan ini tidak membawa perubahan esensial dalam perbaikan nasib buruh yang katanya mereka bela itu. Kalau mereka kekeuh mempertahankan pendekatan ini, motivasi mereka juga layak dipertanyakan.
Anyway, terlepas dari masalah buruh, saya merasa masyarakat kita punya masalah bersama. Masalah yang membuat kita berpikir kita perlu mendefinisikan diri kita dengan hal-hal materiil. Thus, the title of this post. Emo Ergo Sum, I Buy therefore I Am. Untuk urusan ini, saya pikir saya tidak perlu menulis lagi, toh sudah dinyanyikan dengan apik oleh Eddie Vedder. Jadi mari kita dengarkan saja.
---------------------------------------------------------
*Gambar boneka berbaris diambil dari halaman ini.
**Gambar Aston Martin DB9 diambil dari halaman ini.
**Gambar Aston Martin DB9 diambil dari halaman ini.
Subscribe to:
Comments (Atom)




_02.jpg)