Apakah anda lahir di antara akhir tahun 70an sampai awal 90an? Kalau iya maka sama seperti saya, anda masuk ke dalam satu kategori generasi yang bahkan namanya belum disepakati. Ada yang menyebut kita millenials, generasi Y, atau bahkan GYPSY.
Beberapa tahun terakhir saya perhatikan, mulai banyak artikel yang berusaha mendefinisikan kehidupan dan tingkah laku orang-orang generasi ini. Banyak diantaranya menurut saya sangat judgemental. Beberapa terang-terangan menyatakan keprihatinan akan masa depan: mau jadi apa dunia ini kalau dipimpin sama bocah-bocah millenial ini? Kok sepertinya mengatur diri mereka sendiri tidak becus?
Orang-orang yang menulis artikel-artikel ini (setidaknya yang berhasil saya telusuri dengan bantuan Mbah Gugel) kebanyakan lahir sebelum datangnya generasi millenial. Pada dasarnya mereka mengatakan bahwa generasi ini mempunyai ekspektasi yang terlalu tinggi, bahkan sampai tahap delusional; yang tentunya tidak realistis ketika dibandingkan dengan kenyataan yang ada. Makanya banyak yang depresi. Generasi ini juga apatis, dan tidak terkoneksi dengan fenomena sosial di sekeliling mereka. Makanya mereka tidak punya empati. Saya punya tiga kata untuk kalian para penulis artikel: too fucking late!
Kalian menginginkan kami mendapat kehidupan yang lebih baik dari kalian, sehingga membanjiri kami dengan barang-barang konsumsi yang dipaksakan kepada kalian oleh korporasi. Ketika kami menghabiskan uang kami (yang tentunya tidak sebanyak kalian, mengingat kami baru masuk ke dalam angkatan kerja) untuk membeli barang-barang yang tidak bisa dianggap aset, kalian bilang kami boros.
Setiap kami pulang membawa rapor kami, kalian selalu bertanya apakah nilai kami bagus dan memasang wajah kecewa kalau ternyata tidak. Kalian membuat kami percaya bahwa pencapaian-pencapaian akademik (yang di kemudian hari bertransformasi menjadi pencapaian finansial) adalah satu-satunya hal yang harus kami kejar. Ketika kami mencontek atau paling tidak menggunakan "rumus singkat" yang diajarkan di bimbingan belajar, kalian bilang kami malas.
Kalian sibuk bekerja (yah, bukan salah kalian juga sih. Kalau mau sedikit kelihatan kiri lebih tepat menyalahkan struktur kapitalisme global), tidak punya waktu mengajak kami bersosialisasi dengan tetangga-tetangga. Ketika kami tidak tahu ketika mereka punya masalah, kalian bilang kami tidak peduli.
Kalian membuat kami percaya bahwa kami ini istimewa, kalau kami bisa meraih segalanya. Reach for the moon, if you miss at least you will land among the stars, kata kalian. Kalian lupa bahwa bintang lebih jauh dari bumi, dan kalau kami mendarat di ruang angkasa yang hampa udara, kami akan mati beku kehabisan oksigen dalam 30 detik. Begitu kami depresi mengetahui kenyataan itu, kalian bilang kami manja.
Tanpa bermaksud menyalahkan para orang tua, apakah
kalian tidak merasa bahwa kami adalah produk dari struktur poleksosbud
yang kalian ciptakan? Sudahlah, tidak perlu lagi menganalisa karakteristik generasi kami. Bikin tambah depresi aja. Lebih baik kalian katakan pada kami apa yang harus kami lakukan supaya kekacauan ini tidak kami lanjutkan ke generasi berikutnya.
Thursday, January 28, 2016
Monday, January 18, 2016
Takut Nggak Yaaaa....
Saya merasa beruntung, karena pasca peledakan bom yang menghebohkan Jakarta minggu lalu, tidak satupun teman-teman saya di whatsapp yang menyebarkan foto-foto berdarah-darah korban maupun pelaku. Berarti saya punya teman-teman yang tepat. Kata siapa coba kita ngga boleh pilih-pilih teman?!
Saya sengaja tidak buka FB di hari kejadian. Karena meskipun saya sudah lama ingin bebersih laman FB saya dari "teman-teman" yang postingannya justru bikin stres, sampai sekarang saya belum sempat melakukannya. Daripada kesal lihat gambar darah atau panik gegara berita yang nggak jelas darimana asalnya. Mending saya hiatus dulu sehari deh. Sehari aja. Nggak usah lama-lama.
Tidak berapa lama setelah kabar peledakan tersebut, ada seorang kolega yang mengirim pesan di grup yang tidak secara sukarela saya ikuti. Kira-kira inti pesannya adalah: "jangan takut!"
Ngomong-ngomong, saat kejadian saya dan tim sedang rapat di luar kantor. Di daerah yang lumayan banyak persentasi imigran dari negara-negara lainnya (karena konon katanya bilang expatriat itu bahwasanya rasis juga). Reaksi awalnya? Pasti lah khawatir. Tapi setelah dipikir dan dicerna, reaksinya berubah menjadi: "Ya udahlah ya, toh kalo emang udah waktunya mati, mau lagi di fort knox juga tetep mati aja."
Meski demikian, bukan berarti saya tidak takut. Ketakutan adalah reaksi pertahanan diri yang paling alami. Hal yang menjaga kita dari melakukan hal-hal yang dapat menyebabkan rasa sakit, baik fisik maupun mental. Beberapa orang takut pada ketinggian karena sesungguhnya, jatuh dari gallery monas itu bisa bikin mati. Kira-kira demikian analoginya buat saya. Tidak ada yang salah dengan rasa takut. It keeps us alive. Yang kemudian jadi salah adalah bereaksi berlebihan terhadap rasa takut tersebut.
Terlepas dari takut atau tidaknya saya (ciee.. gak mau ngaku kalo takut cieee...), saya pikir mayoritas orang bukannya tidak takut. Apatis aja. Orang Indonesia, dan Jakarta terutama, sudah sangat terbiasa dengan sikap "ya udahlah ya.." Sampai-sampai mereka tidak lagi merasa perlu bereaksi serius menghadapi situasi serius. Bagus sih buat kewarasan, tapi hampir bisa dipastikan tidak akan menyelesaikan permasalahan. Contoh: "Aduh, bulan ini minus lagi nih. Ya udahlah ya." Nambah terus deh utang kartu kreditnya. Loh, curhat. Hahaha...
Ada tulisan yang menyebutkan bahwa menutupi teror dengan humor itu merupakan perwujudan dari cacat wacana. Lemah di konten, tidak paham menganalisa suasana, jadi tidak yakin harus bereaksi seperti apa. Tapi apakah kemudian itu sepenuhnya salah? Saya pikir tidak juga. Toh, satu hal yang tidak disangka-sangka, Jakarta nggak jadi mencekam. Hahahaa...
Bahwa kita perlu lebih mengasah kemampuan berpikir kritis dan membuka hati kita, saya setuju. Buat saya tidak bijak (untuk tidak mengatakan bodoh) menonton tembak-tembakan pakai peluru betulan, mengirim driver tanpa pelatihan militer dan tanpa dilengkapi alat-alat pertahanan yang cukup untuk mengevakuasi orang-orang di battlezone, dan menerobos barikade polisi cuma untuk selfie (seriously, guys, masih ada proses penyelidikan loh).
Ya, kita memang perlu berpikir, apa sih akar permasalahan yang harus dipecahkan? Apa sih intervensi yang paling tepat untuk dilakukan? Siapa sih yang harusnya jadi target intervensi? Konten apa sih yang harus kita pegang? Sumber daya apa sih yang bisa dimobilisasi? Tsaaah.. udah pantes belom saya jadi mbak-mbak enjioh? Hahahaha..
But seriously, mungkin kita perlu sedikit merefleksikan pertanyaan-pertanyaan di atas sebelum keadaan menjadi tambah kacau. Tapi nggak ada salahnya juga toh, kalau kalau sambil melakukannya kita sedikit tertawa? Mengutip ending-ending film Warkop DKI, tertawalah sebelum tertawa itu dilarang. Ya nggak sih? :-)
Saya sengaja tidak buka FB di hari kejadian. Karena meskipun saya sudah lama ingin bebersih laman FB saya dari "teman-teman" yang postingannya justru bikin stres, sampai sekarang saya belum sempat melakukannya. Daripada kesal lihat gambar darah atau panik gegara berita yang nggak jelas darimana asalnya. Mending saya hiatus dulu sehari deh. Sehari aja. Nggak usah lama-lama.
Tidak berapa lama setelah kabar peledakan tersebut, ada seorang kolega yang mengirim pesan di grup yang tidak secara sukarela saya ikuti. Kira-kira inti pesannya adalah: "jangan takut!"
Ngomong-ngomong, saat kejadian saya dan tim sedang rapat di luar kantor. Di daerah yang lumayan banyak persentasi imigran dari negara-negara lainnya (karena konon katanya bilang expatriat itu bahwasanya rasis juga). Reaksi awalnya? Pasti lah khawatir. Tapi setelah dipikir dan dicerna, reaksinya berubah menjadi: "Ya udahlah ya, toh kalo emang udah waktunya mati, mau lagi di fort knox juga tetep mati aja."
![]() |
| Maafkan, saya nggak tau ini meme datang dari mana.. Kalau anda tau pembuatnya, tolong saya dikasih tau yah.. |
Terlepas dari takut atau tidaknya saya (ciee.. gak mau ngaku kalo takut cieee...), saya pikir mayoritas orang bukannya tidak takut. Apatis aja. Orang Indonesia, dan Jakarta terutama, sudah sangat terbiasa dengan sikap "ya udahlah ya.." Sampai-sampai mereka tidak lagi merasa perlu bereaksi serius menghadapi situasi serius. Bagus sih buat kewarasan, tapi hampir bisa dipastikan tidak akan menyelesaikan permasalahan. Contoh: "Aduh, bulan ini minus lagi nih. Ya udahlah ya." Nambah terus deh utang kartu kreditnya. Loh, curhat. Hahaha...
Ada tulisan yang menyebutkan bahwa menutupi teror dengan humor itu merupakan perwujudan dari cacat wacana. Lemah di konten, tidak paham menganalisa suasana, jadi tidak yakin harus bereaksi seperti apa. Tapi apakah kemudian itu sepenuhnya salah? Saya pikir tidak juga. Toh, satu hal yang tidak disangka-sangka, Jakarta nggak jadi mencekam. Hahahaa...
Bahwa kita perlu lebih mengasah kemampuan berpikir kritis dan membuka hati kita, saya setuju. Buat saya tidak bijak (untuk tidak mengatakan bodoh) menonton tembak-tembakan pakai peluru betulan, mengirim driver tanpa pelatihan militer dan tanpa dilengkapi alat-alat pertahanan yang cukup untuk mengevakuasi orang-orang di battlezone, dan menerobos barikade polisi cuma untuk selfie (seriously, guys, masih ada proses penyelidikan loh).
Ya, kita memang perlu berpikir, apa sih akar permasalahan yang harus dipecahkan? Apa sih intervensi yang paling tepat untuk dilakukan? Siapa sih yang harusnya jadi target intervensi? Konten apa sih yang harus kita pegang? Sumber daya apa sih yang bisa dimobilisasi? Tsaaah.. udah pantes belom saya jadi mbak-mbak enjioh? Hahahaha..
But seriously, mungkin kita perlu sedikit merefleksikan pertanyaan-pertanyaan di atas sebelum keadaan menjadi tambah kacau. Tapi nggak ada salahnya juga toh, kalau kalau sambil melakukannya kita sedikit tertawa? Mengutip ending-ending film Warkop DKI, tertawalah sebelum tertawa itu dilarang. Ya nggak sih? :-)
Monday, January 4, 2016
Hepi Hepi 2016
Semakin kita beranjak dewasa (untuk tidak mengatakan tua), semakin kecil arti selebrasi hari besar. Entah kenapa, merayakan beberapa hari besar jadi terasa banal. Terutama ketika makna dari perayaan tersebut jadi hilang, atau mungkin memang sejak awal tidak pernah merasuk dalam perasaan. Jadinya cuma celebration for celebration's sake. Semacam: pada beriang ria nih, yah saya ikutan aja lah. And this kind of way to celebrate is fun for a while, sampai pada saat menikmati keriaan bersama temanpun sudah menjadi sebuah kebutuhan sosial, dan bukan sarana pemuasan spiritual. *halah, kok susah menemukan bahasa yang cocok ya..*
Bukannya saya nggak suka keriaan sih, but as I become older, saya jadi jauh lebih selektif dalam memilih teman-teman saya beriang ria. I have a very small circle of friends with whom I am comfortable with. Sisanya ya cuma jadi social prerequisite. Bukan berarti saya nggak bisa bersenang-senang dengan mereka. Tapi mungkin bersenang-senang sudah tidak jadi prioritas lagi buat saya kali ya. Geez, I sound like a geezer!
Tapi jangan salah paham ya, saya bukannya sama sekali nggak suka selebrasi. Masih ada juga kok hari-hari libur dan/atau hari besar yang membuat saya bersemangat. Paskah dan Valentine misalnya. Eh, Valentine itu masuk hari besar nggak sih?
Anyway, saya menulis artikel ini karena beberapa hari yang lalu saya menemukan artikel Antonio Gramsci berikut yang mengritisi soal perayaan tahun baru. Udah, nggak usah kaget gitu saya baca Gramsci. Kebeneran aja linknya ada di timeline, makanya saya klik.
Somehow, the article clicked. Konsepsi satuan waktu yang berlaku umum membuat kita mempercayai ilusi bahwa di setiap transisi antar satuan waktu ada permulaan baru. Dan ini terjadi setiap pagi, setiap hari Senin, setiap tanggal 1, apalagi setiap tanggal 1 Januari. Kita ingin percaya bahwa di setiap transisi ada awal baru untuk kita, meskipun pada kenyataannya hidup kita terus berjalan tanpa jeda. Hal yang terjadi tahun lalu tidak bisa dihapus begitu saja hanya dengan membuang kalender dan menggantung kalender baru. Kerjaan yang masih pending masih harus dikerjakan. Orang yang kita sakiti juga masih kesakitan.
Okay, at this point, pendapat saya jadi berbeda sama Gramsci. Kalau dia lebih optimis, pemikiran saya agak sedikit lebih gelap. Sedikit aja kok tapi. Beda dengan dia yang ingin setiap hari menjadi awal yang baru, saya berpendapat bahwa kita harus lebih realistis. Nggak usahlah memaksakan diri membuat resolusi berjamaah karena externally imposed milestone begitu. We all will change at our own pace. Nggak usah dipaksakan.
That being said, terlepas dari seberapapun kelamnya isi kepala saya, saya sukaaaaaa kembang api! Jadi ya, malam tahun baru kemarin tetap menikmati juga sih. Tuh kan. Labil.
Bukannya saya nggak suka keriaan sih, but as I become older, saya jadi jauh lebih selektif dalam memilih teman-teman saya beriang ria. I have a very small circle of friends with whom I am comfortable with. Sisanya ya cuma jadi social prerequisite. Bukan berarti saya nggak bisa bersenang-senang dengan mereka. Tapi mungkin bersenang-senang sudah tidak jadi prioritas lagi buat saya kali ya. Geez, I sound like a geezer!
Tapi jangan salah paham ya, saya bukannya sama sekali nggak suka selebrasi. Masih ada juga kok hari-hari libur dan/atau hari besar yang membuat saya bersemangat. Paskah dan Valentine misalnya. Eh, Valentine itu masuk hari besar nggak sih?
Anyway, saya menulis artikel ini karena beberapa hari yang lalu saya menemukan artikel Antonio Gramsci berikut yang mengritisi soal perayaan tahun baru. Udah, nggak usah kaget gitu saya baca Gramsci. Kebeneran aja linknya ada di timeline, makanya saya klik.
Somehow, the article clicked. Konsepsi satuan waktu yang berlaku umum membuat kita mempercayai ilusi bahwa di setiap transisi antar satuan waktu ada permulaan baru. Dan ini terjadi setiap pagi, setiap hari Senin, setiap tanggal 1, apalagi setiap tanggal 1 Januari. Kita ingin percaya bahwa di setiap transisi ada awal baru untuk kita, meskipun pada kenyataannya hidup kita terus berjalan tanpa jeda. Hal yang terjadi tahun lalu tidak bisa dihapus begitu saja hanya dengan membuang kalender dan menggantung kalender baru. Kerjaan yang masih pending masih harus dikerjakan. Orang yang kita sakiti juga masih kesakitan.
Okay, at this point, pendapat saya jadi berbeda sama Gramsci. Kalau dia lebih optimis, pemikiran saya agak sedikit lebih gelap. Sedikit aja kok tapi. Beda dengan dia yang ingin setiap hari menjadi awal yang baru, saya berpendapat bahwa kita harus lebih realistis. Nggak usahlah memaksakan diri membuat resolusi berjamaah karena externally imposed milestone begitu. We all will change at our own pace. Nggak usah dipaksakan.
That being said, terlepas dari seberapapun kelamnya isi kepala saya, saya sukaaaaaa kembang api! Jadi ya, malam tahun baru kemarin tetap menikmati juga sih. Tuh kan. Labil.
Thursday, October 8, 2015
Manajemen Ekspektasi
My life seems like an endless hurdle race. Lari halang rintang. Dengan ekspektasi sebagai halangannya. Mulai saat kita lahir, orang mengharapkan kita untuk menangis. Sedikit lebih besar; kita diharapkan merangkak, berjalan, membaca, sehat, ceria, pintar, ramah, dan serentetan ekspektasi lainnya.
Adopsi Insecurity
Ketika kecil mungkin efek samping dari ekspektasi ini tidak terlalu bisa kita rasakan. Paling ya kita menganggap ekspektasi-ekspektasi eksternal terhadap kita ini sebagai suatu kewajaran. Keniscayaan. Orang masuk sekolah ya memang harus dapat nilai bagus. Kalau sampai dapat nilai merah itu dosa besar. And that's why we strive as best as we could to achieve expectations that is not necessarily be ours. But we adapt. And we adopt the expectations as if they were our own.
Semakin dewasa, baru mulai kita menyadari kalau menghadapi semua ekspektasi ini menyebalkan. insecurity orang-orang di sekitar kita. Nah, yang menyebalkan insecurity ini bisa menular. Okelah kalau beberapa dari mereka punya alasan yang cukup rasional. Tapi kebanyakan ekspektasi tersebut sebenarnya cuma proyeksi dari
Let me give you an example. Gue sih nggak masalah Body Mass Index gue cuma 17.1. Toh gue nggak lagi masuk rumah sakit dua kali setahun. Toh gue nggak lagi mengurung diri di kamar sampai berminggu-minggu dan hidup cuma dari indomie dan The Sims. Tapi kok semua orang bilang gue terlalu kurus ya? Oh shit! Maybe I do need to gain some weight. Gitu.
And it doesn't matter how badass you are. You can have a Ph.D. from a distinguished university, have a bombshell look, and a ridiculously kind heart; still, people will find something wrong with you. "Ya ampuuun, umur segitu belum nikah? Nyarinya pasangan yang kayak apa sih?" said the schadenfreude on the next table. (Nggak kok, Kakak Yenny, aku gak ngomongin kamu. Mumumumuuuu...) Sayangnya menjawab "Nggak kayak pasangan kamu yang agak bodoh itu pastinya!" itu nggak socially acceptable.
Menyebalkan sebenarnya. Orang-orang membungkus ekspektasi-ekspektasi ini dalam kerangka kepedulian, when in fact they are just looking for something to make their sad little life feel a bit more bearable. I pity you, people. Because you feel the need to make people feel bad for the choices they make. Even worse, you don't even realise that you are doing it.
Komodifikasi Ekspektasi
On a slightly different note, yang namanya ekspektasi ini tampaknya juga telah diinstitusionalisasi dan dikomodifikasi. Ekspektasi tidak cuma dibebankan pada kita oleh individu; tapi juga oleh komunitas, institusi, dan korporasi. Beberapa waktu yang lalu saya pergi ke salah satu toko t-shirt kenamaan dunia karena saya niat banget mau beli baju kembaran dengan teman baik saya (sebut saja Mas D dari kota S) yang fans berat merk ini. Waktu saya tanya ukurannya, Mas D bilang "XS, soalnya S-nya kegedean di aku." Padahal si Mas D ini sekarang udah chubby-chubby lucuk gitu.
Dengan semangat 45, pergilah saya ditemani dua orang dekat saya (halah) ke toko tersebut. Saya ambilkan kaos ukuran XS buat Mas D. Besar juga ternyata. Setelah itu saya coba juga ukuran perempuannya untuk saya. Ternyata XS kekecilan, saya harus beli yang ukuran S. Sempat berpikir, "Hmmm.. aneh deh. Emang ada ya orang yang ukurannya lebih kecil dari gue?" But then I simply shake the feeling off.
Beberapa hari kemudian, saya menemani seseorang ke toko yang sama (sebut saja Mbak A dari Kota A). Nah, si Mbak A ini ukurannya sedikit lebih besar dari saya, tapi tetap saja dia masuk kategori kurus. Beneran deh. Ask anybody (except her). Ketika dia coba-coba kaos super keren yang kami lihat pas saya beliin baju buat Mas D, I was shocked to learn that Mbak A harus beli kaos ukuran XL. Padahal XL itu ukuran paling besar, dan berdasarkan perkiraan ngawur saya, sekitar 70% populasi perempuan Indonesia ukurannya lebih besar dari Mbak A. Maybe I'm overreacting. Cuma kok kayaknya nggak adil ya? Laki-laki diijinkan untuk berbadan besar sementara perempuan dibuat merasa bersalah kalau nggak kecil.
Thin Is Also Beautiful, Damnit!!!
Don't get me wrong, berdasarkan pengalaman saya punya badan kecil nggak enak juga. Orang mengira kita diet ketat, membatasi makan, maniak olahraga, bahkan ada satu orang yang pernah nanya ke saya: "Are you anorexic?" Pengen jawab: "Did you learn your manner in hell?" tapi itu juga nggak socially acceptable. Darn!
Ya emang sih, saya makannya sedikit. Sedikit-sedikit makan. Tapi sakit juga loh kadang-kadang liat tulisan-tulisan yang bilang "big is beautiful, thin is fake." Kenapa sih nggak bisa bilang we are beautiful without needing to be someone we're not? Yes, I'm looking at you right in the eye, Meghan Trainor! *evil stare*.
Oh iya, saya minta maaf ya tulisan kali ini menggunakan lebih banyak bahasa Inggris daripada biasanya. Somehow, misuh pakai bahasa Inggris itu lebih enak. Nggak berasa terlalu kasar.
------------------------------------------
* gambar di kaos disensor supaya nggak kena pasal 310 KUHP #lebayyoben
Adopsi Insecurity
Ketika kecil mungkin efek samping dari ekspektasi ini tidak terlalu bisa kita rasakan. Paling ya kita menganggap ekspektasi-ekspektasi eksternal terhadap kita ini sebagai suatu kewajaran. Keniscayaan. Orang masuk sekolah ya memang harus dapat nilai bagus. Kalau sampai dapat nilai merah itu dosa besar. And that's why we strive as best as we could to achieve expectations that is not necessarily be ours. But we adapt. And we adopt the expectations as if they were our own.
![]() |
| Am I ugly? Am I rude? Do people hate me? Oh shit! I'm overthinking it, am I? I'm being irrational, am I?! AM I??!! (Credit: Disney) |
Let me give you an example. Gue sih nggak masalah Body Mass Index gue cuma 17.1. Toh gue nggak lagi masuk rumah sakit dua kali setahun. Toh gue nggak lagi mengurung diri di kamar sampai berminggu-minggu dan hidup cuma dari indomie dan The Sims. Tapi kok semua orang bilang gue terlalu kurus ya? Oh shit! Maybe I do need to gain some weight. Gitu.
And it doesn't matter how badass you are. You can have a Ph.D. from a distinguished university, have a bombshell look, and a ridiculously kind heart; still, people will find something wrong with you. "Ya ampuuun, umur segitu belum nikah? Nyarinya pasangan yang kayak apa sih?" said the schadenfreude on the next table. (Nggak kok, Kakak Yenny, aku gak ngomongin kamu. Mumumumuuuu...) Sayangnya menjawab "Nggak kayak pasangan kamu yang agak bodoh itu pastinya!" itu nggak socially acceptable.
Menyebalkan sebenarnya. Orang-orang membungkus ekspektasi-ekspektasi ini dalam kerangka kepedulian, when in fact they are just looking for something to make their sad little life feel a bit more bearable. I pity you, people. Because you feel the need to make people feel bad for the choices they make. Even worse, you don't even realise that you are doing it.
Komodifikasi Ekspektasi
On a slightly different note, yang namanya ekspektasi ini tampaknya juga telah diinstitusionalisasi dan dikomodifikasi. Ekspektasi tidak cuma dibebankan pada kita oleh individu; tapi juga oleh komunitas, institusi, dan korporasi. Beberapa waktu yang lalu saya pergi ke salah satu toko t-shirt kenamaan dunia karena saya niat banget mau beli baju kembaran dengan teman baik saya (sebut saja Mas D dari kota S) yang fans berat merk ini. Waktu saya tanya ukurannya, Mas D bilang "XS, soalnya S-nya kegedean di aku." Padahal si Mas D ini sekarang udah chubby-chubby lucuk gitu.
![]() |
| That is not an XL body, famous brand! Seriously, what's wrong with you?!*(Selfie credit: Mbak A dari kota A) |
Beberapa hari kemudian, saya menemani seseorang ke toko yang sama (sebut saja Mbak A dari Kota A). Nah, si Mbak A ini ukurannya sedikit lebih besar dari saya, tapi tetap saja dia masuk kategori kurus. Beneran deh. Ask anybody (except her). Ketika dia coba-coba kaos super keren yang kami lihat pas saya beliin baju buat Mas D, I was shocked to learn that Mbak A harus beli kaos ukuran XL. Padahal XL itu ukuran paling besar, dan berdasarkan perkiraan ngawur saya, sekitar 70% populasi perempuan Indonesia ukurannya lebih besar dari Mbak A. Maybe I'm overreacting. Cuma kok kayaknya nggak adil ya? Laki-laki diijinkan untuk berbadan besar sementara perempuan dibuat merasa bersalah kalau nggak kecil.
Thin Is Also Beautiful, Damnit!!!
Don't get me wrong, berdasarkan pengalaman saya punya badan kecil nggak enak juga. Orang mengira kita diet ketat, membatasi makan, maniak olahraga, bahkan ada satu orang yang pernah nanya ke saya: "Are you anorexic?" Pengen jawab: "Did you learn your manner in hell?" tapi itu juga nggak socially acceptable. Darn!
Ya emang sih, saya makannya sedikit. Sedikit-sedikit makan. Tapi sakit juga loh kadang-kadang liat tulisan-tulisan yang bilang "big is beautiful, thin is fake." Kenapa sih nggak bisa bilang we are beautiful without needing to be someone we're not? Yes, I'm looking at you right in the eye, Meghan Trainor! *evil stare*.
Oh iya, saya minta maaf ya tulisan kali ini menggunakan lebih banyak bahasa Inggris daripada biasanya. Somehow, misuh pakai bahasa Inggris itu lebih enak. Nggak berasa terlalu kasar.
------------------------------------------
* gambar di kaos disensor supaya nggak kena pasal 310 KUHP #lebayyoben
Subscribe to:
Posts (Atom)


