Friday, November 1, 2013

Emo Ergo Sum

Demo buruh menuntut kenaikan upah sudah bukan hal baru lagi di Indonesia. Pro dan kontra kenaikan upah buruh di media sosial juga sudah bukan hal baru lagi. Tapi demo buruh kali ini semakin rusuh karena ada artikel-artikel yang menyoroti bagaimana para buruh berdemo sambil membawa gadget canggih dan kendaraan mentereng. Semakin seru lah pro dan kontra seputar tuntutan buruh ini.

Beberapa waktu lalu saya sempat membagi salah satu berita kontroversial tersebut di dinding facebook saya. Sederhana saja alasannya, karena saya menyadari bahwa fenomena ini (orang-orang merasa butuh gadget paling up to date dan barang-barang paling mentereng untuk tetap eksis) adalah kenyataan di negara kita, bukan hanya di kalangan buruh, tapi juga (atau mungkin malah terutama) di kalangan pekerja kantoran. As a consequence, saya terjebak daalam perdebatan soal upah buruh. Langsung dicap sebagai kelas menengah yang menolak memahami penderitaan kelas buruh. Baiklah, daripada pendapat saya disalahartikan, saya jabarkan sajalah sekalian pendapat saya soal seluruh fenomena ini.

We all need to practice our right to speak every once in a while.*

Sebagai pekerja 'kantoran', saya lebih banyak melihat fenomena ini terjadi di kalangan yang oleh teman-teman yang lebih paham Marxisme dirujuk sebagai 'kelas menengah' ini. Saya menyaksikan bagaimana orang langsung memburu piranti terbaru segera setelah barang itu dirilis, melihat antrian mengular di dealer BB atau Apple Store ketika ada produk baru. Saya menyadari bahwa sebagai manusia kita punya kebutuhan upgrade dan update, saya juga merasa orang punya hak melakukan apa saja yang mereka mau dengan uang mereka. Supaya tidak dibilang munafik, saya juga beli smartphone kok, tapi saya menyadari bahwa saya melakukan iu karena saya ingin dan ketika saya membeli barang itu, ongkos nongkrong saya jadi berkurang. Itu konsekwensi yang harus saya terima. Apakah saya merasa gaji saya cukup? Tidak. Tapi saya merasa bahwa saya digaji sesuai dengan kontribusi saya pada lembaga. 

Kembali ke masalah buruh. Saya bukan orang tidak berperasaan. Saya bisa membayangkan sulitnya hidup di Jakarta dengan upah 2,4 juta per bulan. Saya bukannya tidak setuju buruh menuntut perbaikan, tapi saya merasa perbaikan yang disasar salah sasaran. Kenapa? Karena setiap kali demo buruh selalu fokus pada nominal yang mereka terima. Menurut saya ini pendekatan yang sagat reaktif. Harga naik, karena itu gaji harus naik; tanpa menyadari kenaikan gaji tersebut akan berkontribusi pada naiknya harga-harga di kemudian hari. Selain itu, pendekatan ini juga simptomatik. Bagaikan kalau pusing langsung minum panadol. Gejalanya sih reda sementara, tapi kanker otaknya tetap ada.

Banyak pendapat di dunia maya menyatakan buruh harusnya lebih bersyukur. Menurut saya pendapat itu menggelikan. Buruh dirugikan, dan mereka harus bersuara. Begitu juga semua guru honorer, satpam, dan orang-orang lain yang merasa dirugikan oleh sistem. But they have to be smart. They must be able to be choose which fights are worth fighting and be strategic with those fights. Di sisi lain, ada lagi pendapat yang berkata apa salahnya buruh punya gadget terbaru atau motor keren? Nggak, nggak ada salahnya. But then again, setiap keputusan punya konsekwensi. Saya bukannya menolak buruh punya barang-barang keren, saya menolak kalau pembiayaan barang-barang keren tersebut menjadi dasar permohonan kenaikan upah mereka. Nggak ada salahnya saya punya Aston Martin, tapi bodoh kalau saya berharap bisa mencicil Aston Martin DB9 sambil mempertahankan gaya hidup saya sekarang.

Nothing's wrong with this baby, nothing at all.**

Apakah kenaikan upah perlu? Mau tidak mau. Tanpa kenaikan upah, buruh tidak akan bisa bertahan. Tapi menurut saya menuntut kenaikan upah semata hanya akan melestarikan akar masalah yang menyebabkan ketimpangan sosial antara orang-orang dengan tingkat pendapatan yang berbeda-beda. Kenaikan upah bukan satu-satunya faktor yang harus diperjuangkan. Ada hal-hal yang juga esensial: Apakah mereka diijinkan berserikat dan apakah serikat tersebut berfungsi efektif untuk mendukung kepentingan para buruh? Apakah mereka diberi kesempatan mengembangkan diri dan naik ke jenjang berikutnya? Apakah keamanan kerja mereka dijamin oleh perusahaan (bukan hanya dalam hal perusahaan meminimalisir kecelakaan kerja, tapi juga menjamin buruh bukan aset yang disposable)? Apakah mereka sudah mendapat jaminan-jaminan mendasar (misalnya saja kesehatan dan pendidikan)? Itu baru pertanyaan-pertaanyaan seputar perusahaan saja. Masih banyak lagi hal-hal diluar gaji yang berujung pada memastikan kesetaraan dan perbaikan nasib buruh, tapi seringkali terabaikan. Padahal tanpa perubahan sistemik, mau berapapun gajinya, buruh akan tetap menjadi pihak yang dirugikan. Kalau mau benar-benar memperbaiki nasib buruh, secara tidak langsung subsidi untuk petani, pendidikan gratis dan berkualitas, sarana dan prasarana publik, dan seabreg isu lainnya juga harus diperbaiki. 

Nah, disinilah serikat buruh dan segala CSO-CSO yang menjamur itu seharusnya berperan. Menurut saya, fungsi mereka bukan hanya untuk memobilisasi buruh untuk bergerak, tapi juga untuk mengedukasi buruh mengapa mereka perlu bergerak. Kenyataannya, kebanyakan buruh tidak mempunyai pemahaman untuk melihat contributing factors yang tidak langsung berhubungan dengan dirinya, karena itulah pihak eksternal yang punya pandangan lebih luas bisa membuat mereka menyadari hal-hal tersebut, bukannya membabi buta mendorong dan mendukung buruh untuk berkutat di masalah itu-itu saja. Toh pendekatan ini tidak membawa perubahan esensial dalam perbaikan nasib buruh yang katanya mereka bela itu. Kalau mereka kekeuh mempertahankan pendekatan ini, motivasi mereka juga layak dipertanyakan.

Anyway, terlepas dari masalah buruh, saya merasa masyarakat kita punya masalah bersama. Masalah yang membuat kita berpikir kita perlu mendefinisikan diri kita dengan hal-hal materiil. Thus, the title of this post. Emo Ergo Sum, I Buy therefore I Am. Untuk urusan ini, saya pikir saya tidak perlu menulis lagi, toh sudah dinyanyikan dengan apik oleh Eddie Vedder. Jadi mari kita dengarkan saja. 



---------------------------------------------------------
*Gambar boneka berbaris diambil dari halaman ini.
**Gambar Aston Martin DB9 diambil dari halaman ini

Wednesday, September 25, 2013

Comfort Zone

Kata orang, life begins at the end of your comfort zone. Apakah benar demikian? Mungkin iya, beberapa teman yang (sepertinya) berani mendorong batas zona nyaman mereka sampai ke tahap yang cukup ekstrim tampak mempunyai alur hidup yang lebih berwarna dibandingkan teman-teman yang menerima saja hal yang disodorkan kehidupan pada mereka, bahkan ketika mereka layak dan dapat menerima hal yang lebih dari yang mereka dapat sekarang. Tapi, saya tidak bisa memvonis kalau kelompok yang pertama lebih 'hidup' daripada kelompok yang kedua, ataupun kalau kelompok pertama bisa dikatakan lebih bahagia dari kelompok kedua.

Saya pribadi merasa nyaman berada di zona nyaman saya (ya pasti nyaman lah, namanya juga zona nyaman). Saya bukan orang yang mempunyai hasrat meluap-luap untuk mendobrak batas kenyamanan saya. Paling-paling saya suka menari-nari di batas kenyamanan saya sambil sesekali menyimpang dari batas tersebut. Yang terjadi setelahnya adalah satu dari dua hal: saya ikut menarik batas kenyamanan saya sesuai gerak tari saya, atau saya kembali ke dalam batas kenyamanan yang sebelumnya sudah ada. Untuk saya tidak ada salahnya berusaha menyamankan diri di tempat yang tidak sepenuhnya nyaman, tapi bertahan di tempat yang sama sekali tidak nyaman (tanpa kemungkinan kita bisa mengusahakan kenyamanan) adalah bodoh dan sia-sia. Meskipun merasa bahwa saya harus secara konstan menantang diri saya, tapi di mata saya tidak ada yang salah dengan merasa nyaman. Comfort is good, that's why we sleep on mattresses instead of stone slabs.

This looks comfortable. I don't see what's wrong with this.*
Lalu kenapa banyak orang membenci zona nyaman? Karena zona nyaman bisa berbahaya ketika dia membutakan kita. Zona nyaman menjadi membutakan ketika pikiran kita tertutup, dan menolak berkompromi. Kita terkekang zona nyaman ketika semua hal di luar zona nyaman kita terlihat berbahaya. Hal ini muncul ketika menolak mempercayai bahwa ada hal baik di luar zona nyaman yang kita ciptakan. Akibatnya, orang yang dibutakan zona nyaman akan menjadi ketakutan. Jangankan mencoba, mendengar ada hal diluar zona nyaman saja sudah membuat merinding. Pada tingkat yang ekstrim, orang-orang yang dibutakan zona nyaman bisa menjadi ofensif terhadap orang-orang dan hal-hal di luar zona nyaman mereka. Misalnya saja orang-orang 'beragama' yang menyerang orang-orang atheis hanya karena mereka membuat orang-orang 'beragama' merasa tidak nyaman.

Bahaya lain adalah ketika zona nyaman mengekang kita. Indikasi kuat bahwa ketika kita terkekang zona nyaman adalah ketika zona tersebut tidak lagi nyaman. Biasanya kita terkekang zona nyaman ketika kita settle for less. Setiap orang punya potensi, dan ketika potensi tersebut tidak lagi terakomodasi oleh zona nyaman, orang bisa saja memperluas zona nyamannya. After all, comfort zone is not a rigid cage. Zona nyaman sesungguhnya adalah sesuatu yang organik. Dia bisa berkembang dan berubah seperti manusia juga berkembang dan berubah. Memaksakan manusia menetap dalam pseudo comfort zone yang menolak berubah sama saja tidak memampukan manusia mencapai kapasitas terbaiknya. Kenyataan bahwa manusia yang terkekang dalam zona nyaman menyadari bahwa dia bisa mencapai hal yang lebih dari pseudo comfort zone yang didiaminya itulah yang membuat zona nyaman tersebut tidak lagi nyaman.

Sayangnya, banyak orang memilih bertahan dalam zona nyaman yang tidak nyaman karena the familiar, no matter how uncomfortable, is much better than the unknown. Mungkin karena asumsi umum semacam inilah orang-orang jadi mengatakan bahwa life begins at the end of your comfort zone ya? Bagaimana mungkin kita bisa mengetahui bahwa the unknown itu tidak lebih baik dari the familiar sementara kita tidak pernah mencobanya? Saya jadi berpikir, jangan-jangan sebenarnya ini bukan masalah kenyamanan, tapi lebih kepada keterbukaan, kesediaan mencoba hal-hal baru, dan menghindari stereotipe yag kita ciptakan sendiri.

Nah, kalau pola pikirnya seperti itu saya sangat setuju. Yang harus dikriminalisasi sebenarnya bukan zona nyamannya sendiri, tapi pemikiran sempit yang membuat kita berpikir bahwa zona nyaman kita juga sempit. Kenyataannya, dunia itu luas. Ada banyak ruang bagi kita untuk menemukan dan menciptakan kenyamanan. Jadi, mari kita sama-sama mengeksplorasi dan menentukan sendiri apa yang nyaman untuk kita.

---------------------------------------------------------
*Picture by Mac, taken from this site.

Monday, May 27, 2013

Purnama, Sutra, dan Lampu Kilat

The Background 
Sehari sebelum Waisak, saya menemukan artikel ini di facebook.  Setelah saya membacanya, saya merasa bisa memahami persepsi penulisnya, maka saya memutuskan memajang artikel ini di dinding facebook saya. Niatan saya ketika memasang laman ini di dinding saya cuma satu: mengingatkan orang-orang bahwa tindakan yang seringkali kita lakukan tanpa niat jahat (dalam hal ini mengambil foto 'atraksi pariwisata') ternyata mengganggu hak asasi orang lain, dan membuat orang tersebut merasa terganggu. Apalagi karena ini bukan isu baru, melainkan sudah saya dengar beberapa tahun berturut-turut; maka terdoronglah saya untuk melakukan (bahasa kerennya) awareness raising ke masyarakat luas.

Beberapa teman saya rupa-rupanya juga memutuskan untuk melakukan hal yang sama. Berarti saya bukan satu-satunya yang merasa bahwa hal ini merupakan masalah. Sepemahaman saya, orang beribadah butuh ketenangan. Apalagi ketika sekuens peribadatannya melibatkan sesi meditatif. Naah, mendekati orang yang lagi asik bermeditasi kemudian dengan semena-mena mengambil foto dengan menggunakan flash pasti akan mengganggu orang yang sedang beribadah dong. That's just common sense. Saya tidak percaya bahwa orang tidak punya pemahaman ini. Kecuali, kalau mungkin mereka nggak pernah kusyuk beribadah ya. Sayangnya, for the sake of a good photo, orang mengabaikan pemahaman mendasar ini. Apakah salah berusaha mengabadikan momen indah? Menurut saya tidak. Tapi kan ada metode yang lebih ramah. Gunakanlah lensa tele dari jarak yang tidak akan mengganggu dan jangan ribut ketika ada orang yang sedang berdoa.

Tapi yang membuat saya sedih bukan karena fenomena ini masih saja terjadi setelah beberapa tahun, tapi karena respon yang diberikan orang-orang atas artikel ini. Buat saya, ketidakpekaan yang ditunjukan orang-orang terhadap orang yang sedang berdoa ini merupakan salah satu indikasi bahwa toleransi belum terinternalisasi dalam pemikiran para pelakunya. Ya, saya setuju dengan penulis artikel ini. Untuk saya ini masalah intoleransi. Tapi ternyata banyak orang tidak berpendapat demikian.

The Opinions
Bukan intoleransi? I beg to differ!
"Ini bukan soal toleransi atau bukan. Jangan dicampuradukan soal ketidakbecusan mengatur dengan toleransi. Yang disebut tidak toleransi adalah ketika umat budha di Borobudur sedang ibadah terus di usir atau di bom. Itu baru disebut tidak toleransi," tulis seseorang yang tidak saya kenal di dinding facebook teman saya. Menyedihkan. Orang baru mau mengakui intoleransi ketika sudah ada bom yang meledak. Saya pernah berada dalam gedung yang porak poranda karena ledakan bom, dan untuk saya itu sudah level intoleransi yang paling tinggi. Sayangnya, rupa-rupanya masih banyak anggota masyarakat menolak mengakui bentuk-bentuk intoleransi yang lebih rendah dan memilih mengabaikan indikasi-indikasi intoleransi. Akibatnya, ketika bom meledak baru deh semua ribut, padahal mungkin kalau potensi konflik ditangani lebih awal, tidak akan sampai ke tindakan yang seekstrim pengeboman.

Banyak juga yang merasa bahwa artikel ini seperti memprovokasi hubungan mayoritas dan minoritas, terutama karena si penulis menulis bahwa orang Islam pastilah marah apabila ibadah Shalat Iednya diganggu orang-orang yang tiba-tiba menyelinap di antara saf. Menurut saya sih, kata-kata ini bukan bertujuan untuk memprovokasi, tapi memberi ilustrasi. Manusia lebih mudah memahami ketika ada ilustrasi dibandingkan ketika membicarakan konsep yang abstrak. Terbukti kan, baru membayangkan ibadahnya diganggu saja sudah banyak orang yang bertindak defensif.  

"...padahal kalo aturannya disampaikan apa yang boleh dan apa yang enggak, dan ada enforcement penegakan aturan tersebut oleh otoritas kan beres." Aduuh, kesannya kayak ketika ada orang melanggar lampu merah terus orang lain berkata "polisi sih, nggak nilang orang-orang kayak begitu!" Sampai kapan sih kita mau menjustifikasi kesalahan orang dengan menyalahkan lemahnya penerapan hukum? Saya setuju kok panitia acara sebaiknya menerapkan aturan yang lebih ketat. Mereka seharusnya memberikan batasan yang jelas antara tempat peribadatan dan penonton. Tapi untuk saya yang lebih penting adalah menumbuhkan kesadaran dalam pikiran masing-masing orang bahwa toleransi dan saling menghormati sesama manusia itu penting. Buat saya tidak cukup memaklumi keberadaan pihak lain, lebih penting untuk mengakui bahwa orang lain itu manusia seperti kita, dengan hak dan kepentingan yang sama. Pengakuan itu juga harus benar-benar kita percayai sehingga terwujud dalam kelakuan kita sehari-hari. Tanpa pemahaman itu, kata 'toleransi' hanya menjadi sesuatu yang superfisial. Iya sih, aturan bisa membuat kita hidup lebih teratur, tapi apa gunanya tanpa keinginan kita mengatur diri sendiri? Rasa-rasanya jadi terkesan seperti omong kosong.

"Tapi what do u expect ? mereka turis," tulis orang asing lain. Yang saya harapkan? Nggak banyak. Cuma semua orang sungguh-sungguh meyakini pentingnya toleransi dalam arti luas; ditambah kesadaran untuk menghormati orang lain dengan kepentingan yang berbeda. On second thought, mungkin ini hal besar untukk diminta. Tapi untuk awalnya saya ingin orang-orang menyadari bahwa pendapat orang itu penting. Ketika seseorang merasa haknya dilanggar, meskipun itu hanya opini satu orang, hal ini perlu disikapi tidak hanya dengan otak, tapi juga dengan hati. Dengan kesadaran penuh bahwa semua manusia itu setara. Tidak mungkin kita bisa menangani keluhan tersebut ketika kita belum menganggap pihak lain tersebut sama dengan kita. 

Pendapat lain yang bikin saya geregetan setengah mati: "Dari pelajaran anak SD, kt belajar : Islam beribadah di MASJID, nasrani di GEREJA, hindu di PURA, buddha di VIHARA, tapi ga disebutin di candi," oke, argumen ini mungkin bisa dikatakan oleh anak SMP. Tapi apakah masih layak digunakan oleh orang yang merasa dewasa? Kata orang, tak kenal maka tak sayang; dan untuk saya, pernyataan ini mengindikasikan bahwa orang-orang tidak merasa penting untuk mencari tahu tentang orang lain, kebudayaan lain, dan kepentingan lain. Orang-orang merasa nyaman dengan mengetahui tentang kelompok mereka sendiri sampai-sampai mematikan sensitivitas mereka terhadap keberadaan kelompok lain yang, kenyataannya, dalam banyak hal berbeda dengan diri mereka.

The Conclusion?
Saya tidak bagus dalam membuat kesimpulan. Banyak tulisan saya di blog ini sifatnya menggantung karena saya tidak mau membuat konklusi. After all, tulisan-tulisan ini murni pendapat pribadi saya dan bukannya analisa akademis yang bisa diambil kesimpulan rigid-nya. Saya cuma berdoa semoga kita bisa lebih sensitif terhadap orang lain dan tidak terlalu egosentris. Tidak ada manusia yang sempurna, maka berhentilah menempatkan diri kita di paling atas. Kata nenek-kakek, di atas langit masih ada langit. Perbaikan hanya bisa terlaksana ketika setiap orang punya keinginan bukan hanya untuk mengubah keadaan, tapi juga mengubah diri sendiri. Satu hal yang jelas-jelas perlu kita ubah? Mungkin baliho di bawah ini ya..


*tepok jidat*

----------------------------------------------
*kedua gambar ini diambil dari dinding facebook. Apabila anda merasa anda yang mengambil gambar-gambar tersebut, tolong hubungi saya.

Friday, May 3, 2013

Kekerasan dan Ketidakberdayaan

Malam ini saya kesal. Di sekolah, saya belajar soal studi perdamaian; dan pengalaman saya membuat saya kesal setiap kali melihat kekerasan. Tapi kekerasan yang dilakukan orang dewasa terhadap anak di bawah umur merupakan salah satu hal yang membuat saya paling kesal.

Blue ribbon for
preventing child abuse
Manusia ibarat kertas kosong yang terisi seiring waktu, dan anak-anak ibarat kertas yang masih banyak ruang kosongnya. Pengetahuan dan pengalaman hidup mereka masih sangat terbatas, banyak hal yang belum mereka ketahui. Sebelum mereka mampu membuat pengalaman dan menyusun pemahaman mereka sendiri, orang dewasa harus mengajarkan sebagian dari hal-hal yang mereka perlu ketahui. Diantara hal-hal yang perlu mereka ketahui, salah satu yang paling penting mungkin adalah mengenai hak asasi.

Tanpa menerima pengajaran tentang hak asasi, seorang anak tidak akan mengerti bahwa mereka punya hak atas perlindungan. Pengajaran disini bukan hanya berarti memberitahu anak bahwa mereka punya hak, tapi juga menunjukkan pada mereka bahwa orang lain harus memperlakukan mereka dengan cinta kasih dan penghargaan yang layak mereka terima. Orang dewasa mempunyai kewajiban untuk membentuk anak-anak menjadi pribadi yang mempunyai kepercayaan diri untuk memastikan orang lain menghargai hak mereka di kemudian hari.

Jadi kenapa saya kesal? Malam ini saya pulang dari Salemba naik bis trans Jakarta. Beberapa menit setelah saya naik, ada anak kecil berusia sekitar empat tahun memanggil-manggil ibunya. Saya bingung, karena sepertinya tidak ada orang yang menunjukkan reaksi yang biasa ditunjukkan seorang ibu yang dipanggil oleh anaknya. Kalaupun ada reaksi dari orang-orang, paling reaksi kebingungan seperti saya. Tak beberapa lama, anak itu mulai menangis sambil menggapai-gapai ke seorang ibu yang berdiri bergeming membelakangi si anak. Saya merasa ini aneh. Karena wajah si ibu tidak seperti tidak mendengar, tapi lebih seperti mengabaikan panggilan si anak.

Beberapa waktu kemudian si anak mulai menangis. Selama beberapa menit, si ibu tetap membelakangi si anak tanpa bereaksi. Ketika akhirnya dia berbalik menghadapi si anak, tiba-tiba dia mencubiti dada dan tangan si anak berkali-kali dengan keras. Seorang perempuan muda yang berdiri di dekat mereka berusaha menghentikan kejadian ini dengan memegang tangan si ibu dan berkata: "Sabar ibu, sabar."

Ibu itu berhenti selama beberapa detik. Karena habis dicubit dengan keras berkali-kali wajarlah kalau tangis si anak semakin menjadi-jadi. Kemudian, si ibu kembali mencubiti si anak dengan keras bahkan dia juga memukuli kepala anak ini beberapa kali dengan sekuat tenaga. Orang-orang di sekitar mereka mulai bereaksi dan menjauhkan tangan si ibu dari si anak. Beberapa mengingatkan si ibu bahwa melakukan kekerasan tidak bisa diterima, bahkan kepada anak sendiri. "Itu KDRT juga loh, bu!" kata salah satu ibu yang ada di dalam bis.

Mungkin karena merasa malu dengan reaksi sesama penumpang, ibu ini berhenti memukuli anaknya dan kembali membelakangi si anak. Si anak menangis, dan justru orang-orang di sekitarnya yang berusaha menghibur si anak. Tapi, si anak ini justru tampak defensif menerima perlakuan ramah dari orang-orang di sekitarnya. Mungkin karena keramahan bukanlah sesuatu yang biasa dia terima. Entahlah, saya tidak berani berspekulasi. Si anak diabaikan oleh ibunya sepanjang jalan. Bahkan ketika turun dari bispun, si ibu tidak mengajak anak ini untuk turun, anak ini mengikuti si ibu ke pintu.


Hell yeah!

 Sekarang anda mengerti kan mengapa saya kesal? Saya sangat paham bahwa mengendalikan emosi adalah hal yang sulit, tapi menderita karena sesuatu yang tidak kita pahami jauh lebih sulit lagi. Anak-anak belum bisa melindungi diri mereka sendiri, mereka bahkan belum tahu kalau mereka boleh melindungi diri mereka sendiri. Karena itulah orang dewasa di sekitar mereka bertanggung jawab untuk memberi mereka perlindungan dan membekali mereka dengan pengetahuan untuk melindungi diri mereka sendiri di masa depan. Ketika orang tua gagal melakukannya, kemana anak harus mencari perlindungan?

Hal lain yang membuat saya kesal adalah karena saya tahu itu bukan kali terakhir si anak akan menerima perlakuan seperti itu. Saya kesal, karena menurut pengamatan saya, di dunia ini kedaulatan keluarga masih dipandang lebih tinggi dari segalanya. Hal ini mengakibatkan masyarakat, dan bahkan aparat, ragu untuk melakukan intervensi atas perilaku-perilaku buruk yang dilakukan dalam keluarga. Saya kesal, karena saya merasa saya tidak bisa melakukan apa-apa lagi untuk anak itu.

Kembali ke judul artikel ini, menurut saya kekerasan dan ketidakberdayaan adalah dua entitas yang idealnya tidak pernah dipertemukan sepanjang segala masa. Sayangnya, kekerasan selalu tertarik pada ketidakberdayaan, dan ketidakberdayaan tidak bisa menolak hadirnya kekerasan. Untuk memperbaiki keadaan ini diperlukan kesadaran dan komitmen dari semua orang, baik yang terlibat langsung dengan keadaan tersebut maupun tidak. Tidak mudah pastinya, dan luar biasa melelahkan. Tapi saya percaya hal ini bisa dilakukan.

----------------------------------
Gambar pita biru diambil dari laman ini
Gambar kartun anak-anak diambil dari halaman ini.