Thursday, March 7, 2013

A Promise Is A Promise

Hari ini adalah Hari Perempuan Internasional. Tema yang telah ditentukan untuk HPI tahun ini adalah “A promise is a promise: Time for action to end violence against women.” Menurut saya tema ini sangat sesuai dengan konteks saat ini. Di tahun 2012 ada banyak insiden kekerasan terhadap perempuan yang menangkap perhatian dunia internasional, mulai dari penembakan Malala sampai gang-rape di India.

Kekerasan terhadap perempuan sebenarnya merupakan masalah klasik; sayangnya hal ini juga merupakan masalah yang keras kepala. Segala daya dan upaya telah dikerahkan oleh orang-orang yang peduli pada isu ini, tapi sampai saat ini kekerasan terhadap perempuan masih merajalela di seluruh dunia. Isu ini bahkan tampak berkembang secara kuantitas dan kualitas. Hal ini belum tentu berarti hal buruk. Kenyataan bahwa semakin banyak insiden kekerasan terhadap perempuan yang terdokumentasi menunjukkan bahwa masyarakat semakin menyadari buruknya kekerasan terhadap perempuan; dan juga mulai berani mengambil tindakan untuk melawan kekerasan terhadap perempuan. Meski demikian, perjalanan untuk membebaskan perempuan dari kekerasan masih panjang.

Hal yang menurut saya membuat kekerasan terhadap perempuan sulit sekali diberantas adalah karena akar permasalahan ini terletak di tempat yang sangat privat, yaitu di dalam pikiran manusia. Argumen yang dibangun perlahan selama bertahun-tahun oleh the so-called society membuat orang-orang secara tidak sadar menempatkan perempuan sebagai second-class citizen di dalam pikiran mereka. Akibatnya, hal ini terpancar dari tindakan mereka sehari-hari. Selama perempuan tidak dianggap mempunyai posisi yang setara dengan laki-laki sebagai manusia, maka tindak dehumanisasi terhadap mereka akan tetap terjadi. After all, bagaimana kita bisa menghargai pihak yang kita pandang lebih rendah?

Persepsi inilah yang menurut saya perlu diubah sebelum kita bisa mengatasi permasalahan kekerasan terhadap perempuan. Bukannya saya menyederhanakan masalah, tapi saya merasa setiap penyelesaian yang tidak menyentuh akar permasalahan hanyalah pengobatan simptomatik yang tidak akan bertahan. Untuk bisa melakukan ini dibutuhkan usaha ekstensif dan tenaga yang tidak sedikit. Kenyataannya ada banyak pihak yang merasa bahwa mempertahankan persepsi ini lebih menguntungkan daripada mengubahnya; dan bukan hanya laki-laki, banyak perempuan juga merasa seperti ini.

We don't have to be a Greek goddess
to fight violence against women


Sembari kita melakukan usaha-usaha mengubah mindset dan menunggu hasilnya, pengobatan simptomatik menjadi solusi yang superfisial, namun sangat diperlukan. Salah satu hal yang menurut saya penting dilakukan adalah menetapkan dan menegakkan rule of law dengan tegas agar bisa memberikan perempuan perlindungan terhadap kekerasan. Indonesia sudah lama meratifikasi CEDAW, tapi sampai saat ini aturan-aturan perlindungan perempuan yang berlaku di Indonesia juga tampaknya masih menyediakan banyak loophole untuk pelaku kejahatan. Belum lagi aparat yang terkesan enggan untuk menindaklanjuti pelaporan-pelaporan tindak kekerasan terhadap perempuan. Kedua hal ini diperparah lagi oleh masyarakat yang, entah kenapa, seringkali membela pelaku kejahatan menyudutkan korban kekerasan terhadap perempuan. Ketika bahkan untuk mengobati gejala penyakit saja kita enggan, apakah merupakan hal yang aneh kalau penyakit kita tidak kunjung sembuh?

Akhirnya, dalam semangat HPI, saya ingin menyerukan bahwa meskipun berat, perang melawan kekerasan terhadap perempuan adalah perang yang harus kita menangkan. Karena itu kita harus terus mengingatkan diri kita untuk melawan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan di dunia internasional, negara, komunitas, rumah tangga, dan, yang paling penting, dalam pribadi kita masing-masing. After all, a promise is a promise, and commitment to fulfill it is more important than making it.

-----------------------------------------------
~ Picture of Pallas Athena were taken from this site.

Tuesday, February 19, 2013

Batas Toleransi

Semalam saya menyaksikan dua orang teman saya berdebat di linimasa. Salah satunya mengambil sudut pandang pro-choice sementara yang lain mengambil sudut pandang pro-faith terkait homoseksualitas. Saya memilih tidak terlibat dalam perdebatan ini, tapi saya merasa bahwa perdebatan ini cukup menarik. Bukan hanya dilihat dari kontennya, tetapi karena menurut saya keduanya menunjukkan sikap yang cukup kuat terkait hal yang menurut mereka cukup penting untuk dibela. Hal ini membuat saya teringat kata-kata salah satu dosen saya: "Seberapa tolerankah kita yang mengaku toleran terhadap orang-orang yang intoleran?"

Dalam dunia dimana orang mulai bisa secara terbuka menunjukkan perbedaan-perbedaan mereka seperti sekarang, orang bisa memilih untuk berpegang teguh pada kesepakatan sosial yang entah sejak kapan dirumuskan, membuka pikiran dan menerima kenyataan bahwa setiap orang berbeda tidak peduli seberapapun anehnya, atau mencari keseimbangan antara kesepakatan sosial dan keterbukaan pikiran. Meskipun kebanyakan orang mengklaim bahwa mereka berpikiran terbuka, tapi saya pikir sampai batas tertentu mereka tetap mempercayai norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Mayoritas manusia, meskipun berpikiran terbuka, tetap menetapkan batasan-batasan yang tidak ingin dia langgar terkait perilaku dirinya dan juga perilaku orang lain.

Saya berpendapat kalau tidak ada orang yang pada dasarnya jahat ataupun baik. Setiap sikap, pilihan, dan perilaku yang diambil oleh manusia pasti didasari pada suatu alasan yang dibentuk oleh pengalaman pribadi masing-masing orang. Jika demikian, tidak heran setiap individu bisa mengambil sikap dan keputusan yang sangat berbeda satu sama lain. Menyadari hal ini agak menyebalkan, karena hal ini berarti saya mengakui bahwa  mereka punya hak untuk bertindak menyebalkan dan tidak masuk akal (menurut saya).

Saya pribadi merasa diri saya cukup toleran. Dalam banyak hal, saya merasa bahwa setiap orang mempunyai hak menentukan pilihannya sendiri. Hal yang saya pikir baik belum tentu juga baik bagi orang lain. Tapi saya juga tidak munafik, ada beberapa pilihan orang yang tidak bisa saya terima, baik secara logika maupun emosi. Salah satu hal yang paling mengganggu saya? Orang yang merasa bahwa jalannya dan hanya jalannyalah yang paling benar. Ya, meskipun saya merasa toleran, saya merasa lebih mudah menolerir orang-orang yang termarjinalkan dan tertindas daripada orang-orang yang menjustifikasi penindasan. Saya rasa ini tidak salah, saya tetap percaya bahwa ada hal-hal yang tidak bisa ditoleransi. Ada hal-hal yang harus diperjuangkan, kalau perlu secara radikal.

Sunday, January 6, 2013

Memilih Kemacetan

"We always have a choice. Whether we can live with our choices is the real question." (Revenge, Season 2, kalau saya tidak salah ingat.)

Bicara Jakarta, seringkali inheren dengan bicara kemacetan. Semua yang pernah tinggal di Jakarta dalam kurun waktu dua dekade terakhir pasti sudah memahami bahwa kemacetan sudah menjadi bagian yang tampaknya tidak terelakkan dari hidup di kota ini. Seringkali di linimasa saya menemukan orang (termasuk saya juga, sih) mengeluhkan tentang kemacetan yang dialami di Jakarta. Kemacetan ekstrim yang terjadi hampir sepanjang tahun di Jakarta memang melelahkan, merugikan, dan menyebalkan.

Saya menemukan bahwa seringkali orang yang mengeluhkan kemacetan di kota ini menyalahkan pihak lain (pemerintah yang tidak menyediakan solusi yang tepat, supir angkot yang seenak udelnya, pengendara motor yang tidak punya etika, dan lain sebagainya). Jarang sekali saya melihat orang mengeluhkan kemacetan sambil menawarkan solusi yang feasible. Ada sih, tapi sedikit berbanding orang yang tidak solutif. Seringkali saya juga seperti itu, kenapa? Karena saya terus terang tidak tahu apa yang harus dilakukan. Secara teori sih, ada banyak hal yang saya bayangkan dapat mengatasi kemacetan di kota ini; tapi dalam segi implementatif, saya sadar bahwa penerapan solusi versi saya juga akan melahirkan permasalahan baru, yang juga perlu dipikirkan matang-matang solusinya.

Jakarta di jam tidak terlalu sibuk
 Pagi ini saya terjebak kemacetan luar biasa. Maklum lah, hari pertama adik-adik mulai masuk sekolah. (Tuh, kan! Saya menyalahkan orang lain lagi). Sementara saya terjebak kemacetan, saya jadi berpikir betapa kecilnya seorang saya di dalam entitas yang bernama lalu lintas. Lautan mobil ini tidak peduli apabila saya terlambat, atau hampir mati sekalipun. Dia punya ritmenya sendiri, melaju dalam kecepatannya sendiri, dan tidak membiarkan saya keluar dari arus tersebut. Segala usaha untuk melepaskan diri secara prematur akan berakibat pada semakin parahnya ritme tersebut.

Selain pemikiran yang kontemplatif tersebut, saya juga menyadari hal lain. Bahwa masalah ini sudah ada sejak jaman orang tua saya. Situasi saat ini memang lebih parah, tapi masalah utamanya sama. Terlalu banyak kendaraan di jalan. Meskipun pernyataan ini masih bisa diperdebatkan, tapi saya cukup yakin bahwa salah satu hal yang menyebabkan over-kapasitas jalan adalah pertumbuhan penduduk Jakarta yang cukup tinggi.

Saya sangat mengerti bahwa manusia secara alami akan berusaha sekuat tenaga untuk bisa bertahan hidup. Di dunia yang digerakkan oleh aktivitas ekonomi seperti yang kita tinggali sekarang, akses terhadap modal (untuk tidak mengatakan uang) adalah hal yang sangat penting dalam memastikan kita mampu bertahan, tidak hanya mempertahankan hidup tapi juga untuk mempertahankan kualitas hidup. Karena itu, tidak heran banyak orang kemudian berkerumun di Jakarta, di mana roda perekonomian berputar sangat kencang dan (relatif) stabil. Sayangnya, hal ini mengakibatkan over-populasi dan segala masalah turunannya di Jakarta dan sekitarnya.

Tidak, saya tidak menyalahkan para migran yang datang ke kota ini. Kenyataannya saya juga ada di sini sekarang. Tapi sekali lagi, kemacetan adalah hal yang inheren dengan Jakarta, bahkan ketika saya duduk di bangku SD, dan mungkin lama sebelumnya. Dalam pengaturan negara kita yang kacau dan terlalu sentralistik ini, saya yakin bahwa paling tidak orang-orang di luar Jakarta yang memiliki televisi mengetahui tentang permasalahan in. Neverthreless, the inflow of human remains high.

Yang ingin saya katakan adalah: para migran yang masuk ke Jakarta memilih untuk masuk ke Jakarta, berikut dengan segala konsekuensinya. Konsekuensi disini tidak hanya berarti mereka akan terjebak dalam kemacetan Jakarta, tapi juga bahwa kemacetan akan semakin parah dengan kedatangan mereka. Apalagi ketika masing-masing memilih membawa kendaraan sendiri. Ini baru masalah kemacetan, belum lagi masalah lainnya. Lalu, kenapa mengeluh? Bukankah idealnya kita sudah bisa mengantisipasi hal ini sebelum mengambil keputusan pindah ke Jakarta?

Memang sih, seperti yang saya tuliskan barusan idealnya kita sudah bisa mengantisipasi stress berangkat ke kantor sambil menghadapi kemacetan setiap harinya. Tapi kenyataannya, di dunia ini tidak ada yang ideal. Kembali ke kutipan yang saya tuliskan di awal, saya jadi merasa bahwa kita perlu sedikit merenungkan bahwa keputusan untuk tinggal di kota yang kacau balau ini adalah keputusan kita sebelum mulai mengeluh. Apalagi ketika kita adalah bagian dari permasalahan tersebut.

Sulit memang, membayangkan konsekwensi dari keputusan kita saat kita membuat keputusan. Apalagi ketika penilaian kita dibutakan oleh faktor lain (gaji, misalnya?). Sayangnya konsekwensi baik dan buruk melekat dengan setiap keputusan yang kita buat. Naif, menurut saya, mengharapkan konsekwensi yang positif saja. Daripada mengutuk konsekwensi negatif dari keputusan kita tampaknya lebih baik bila kita melakukan yang terbaik untuk tidak menambah buruk permasalahan yang memang sudah ada sebelumnya.

*Foto lalu lintas diambil dari alamat ini.

Sunday, October 14, 2012

Because I am a Girl

A father asks his daughter:
Study? Why should you study?
I have sons aplenty who can study
Girl, why should you study?
 
The daughter tells her father:
Since you ask, here’s why I must study.
Because I am a girl, I must study.

Long denied this right, I must study
For my dreams to take flight, I must study
Knowledge brings new light, so I must study
For the battles I must fight, I must study
Because I am a girl, I must study.

To avoid destitution, I must study
To win independence, I must study
To fight frustration, I must study
To find inspiration, I must study
Because I am a girl, I must study.

To fight men’s violence, I must study
To end my silence, I must study
To challenge patriarchy I must study
To demolish all hierarchy, I must study.
Because I am a girl, I must study.

To mould a faith I can trust, I must study
To make laws that are just, I must study
To sweep centuries of dust, I must study
To challenge what I must, I must study
Because I am a girl, I must study.
 
To know right from wrong, I must study.
To find a voice that is strong, I must study
To write feminist songs I must study
To make a world where girls belong, I must study.
Because I am a girl, I must study.

~ Because I am a Girl, I must Study by Kamla Bhasin

Malala, at the age of 12
Picture courtesy of msnbc
Malala Yousufzai, 14 tahun, ditembak di kepala dalam perjalanan pulang dari sekolah karena berusaha memastikan haknya mendapat pendidikan. Di satu sisi, kisah Malala (dan banyak lagi kisah lainnya) membuat diri saya bersyukur lahir di negara yang mengijinkan perempuan mengenyam pendidikan sampai ke tingkat yang tinggi, besar dalam keluarga yang menyadari pentingnya pendidikan bagi anak-anak perempuan, dan bergaul dalam lingkungan yang menghormati hak perempuan akan pendidikan. Namun, di sisi lain, kisah-kisah ini membuat saya berpikir, bagaimana saya sebagai individu bisa membantu perempuan-perempuan yang haknya atas pendidikan diabaikan, dan bahkan dirampas; hanya karena mereka perempuan.

Saya bukan feminis. Saya tetap percaya pada pembagian peran, meski saya yakin bahwa jenis kelamin tidak bisa dijadikan satu-satunya faktor yang mendefinisikan pembagian peran tersebut. Tapi ya, saya percaya bahwa perbedaan ada agar kita bisa saling melengkapi. Justru karena alasan tersebut, maka saya berpendapat bahwa penting bagi semua orang, laki-laki dan perempuan, untuk mendapatkan pendidikan. Kenapa? Karena bagaimana mungkin kita bisa saling mendukung apabila kita tidak memiliki kapasitas yang sama? Dalam berelasi di tingkat apapun, bukankah pihak dengan kapasitas yang lebih rendah cenderung menjadi beban? Lalu kenapa kita, sebagai masyarakat, dengan sengaja menciptakan beban-beban dalam kehidupan bermasyarakat kita dengan menjauhkan suatu golongan tertentu dari akses terhadap pendidikan?

Berbicara dalam konteks spesifik perempuan, saya sadar bahwa kita hidup dalam masyarakat yang tidak ramah pada perempuan. Bagi perempuan, setiap hari adalah perjuangan. Kami harus bertahan menghadapi pihak-pihak yang memandang kami sebagai warga kelas dua, dan di saat-saat tertentu bertahan menghadapi orang yang memperlakukan kami sebagai objek. Banyak perempuan bahkan tidak menyadari bahwa hal ini merupakan sesuatu yang tidak bisa diterima dan menyikapinya sebagai sebuah kewajaran. Padahal ketika masyarakat tidak berpihak pada perempuan, seorang perempuan harus bisa mengandalkan dirinya sendiri untuk perlindungan diri. Bagaimana seorang perempuan dapat melindungi dirinya apabila dia dididik untuk menghormati dan menjaga keberlangsungan ketimpangan yang merugikan dirinya?

Ada banyak sekali pertanyaan dalam tulisan saya kali ini. Banyak diantaranya tidak bisa saya jawab. Dalam suatu diskusi yang saya ikuti baru-baru ini,saya belajar bahwa ketimpangan gender diciptakan oleh lingkungan di luar tubuh biologis kita dan bercokol dalam pikiran kita semua. Setelah diskusi tersebut saya jadi berpikir bahwa sebagai masyarakat, dua hal yang penting untuk kita lakukan adalah berhenti mentolerir pembedaan-pembedaan atas dasar jenis kelamin yang dapat merugikan salah satu pihak serta merombak pola pikir kita dalam memandang pola hubungan yang timpang antara pria dan wanita, dengan mengakui bahwa memang ada ketimpangan di sana.

Saya masih belum bisa menjawab pertanyaan apa yang bisa saya lakukan untuk perempuan-perempuan yang tidak seberuntung saya dalam hal mengenyam pendidikan, tapi mulai sekarang, setiap hari saya akan berusaha perlahan-lahan untuk tidak menolerir diskriminasi dan mulai bersuara bagi mereka yang tidak tahu bahwa mereka boleh bersuara. Mungkin tidak dengan cara yang bombastis, tapi saya yakin bahwa saya bisa berkontribusi terhadap perubahan, sekecil apapun.